Senin, 18 Agustus 2014

BERNARD RUDOLF BOT, MENTERI BELANDA PERTAMA YANG MENGAKUI PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 REPUBLIK INDONESIA

Bernard Rudolf Bot, adalah menteri luar negeri Belanda dalam kabinet JP Balkenende III (2003-2007) yg lahir di Menteng, Batavia pada 21 Nopember 1937. Lelaki bermata tajam ini adalah pejabat tinggi Belanda yang pertama kali datang secara resmi pada acara Peringatan 60 Tahun Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2005 di Istana Negara RI sejak tahun 1946! Kedatangannya mencairkan kebekuan hubungan dua negara yg membuat Pemerintah RI pun menganugerahinya Bintang Mahaputra.

Di awal masa jabatan Bot sebagai Menteri Luar Negeri, perbedaan pandangan hari kemerdekaan RI menjadi masalah yang belum terselesaikan. Pemerintah dan masyarakat kami hanya mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1949. Bagi pihak Belanda, kemerdekaan RI adalah setelah penyerahan kedaulatan di Istana Dam di Amsterdam seusai Konferensi Meja Bundar pada 27 Desember 1949. Banyak orang Belanda yang tidak bisa menerima kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, terutama para veteran perang dan keluarga mereka.
Bot kemudian berdiskusi dengan teman-temannya dari pihak Indonesia dan juga para veteran perang Belanda. ”Jelas, 17 Agustus 1945 itu sangat penting bagi Indonesia sebagai hari kemerdekaan. Proklamasi adalah bukti nyata kemerdekaan, begitu argumen teman-teman Indonesia,” kata Bot.
Setelah setahun lebih bertukar pandangan dengan berbagai kalangan tentang masalah ini, Bot kemudian berusaha meyakinkan parlemen di Belanda. Hingga mayoritas anggota parlemen akhirnya mengamini keyakinan Bot. ”Karena itu, saya pun hadir dalam upacara perayaan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2005 lalu di Istana Presiden,” kata dia.
Konsekuensi penerimaan Bot ini ternyata juga tak mudah. ”Ini memberikan konsekuensi yang besar bagi Pemerintah Belanda dan juga Indonesia. Buku ajar sejarah, misalnya, setidaknya mengalami sedikit perubahan tentang kolonialisme Belanda di masa lalu, khususnya di Indonesia,” kata dia.

Hubungan Emosional dgn Tanah kelahiran
Dengan menerima kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Bot telah menerobos sesuatu yang menjadi ganjalan diplomatik dua negara selama bertahun-tahun. Secara de facto, Belanda telah mengakui Proklamasi Indonesia. Memang masalah ini belum sepenuhnya selesai karena Pemerintah Belanda belum secara resmi (de jure) mengakuinya. Upaya menuntut Pemerintah Belanda secara de jure mengakui kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 ini pula yang menjadi salah satu agenda kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Belanda pada 5 Oktober 2010 ini sebagaimana disebut Juru Bicara Kepresidenan Bidang Luar Negeri Teuku Faizasyah. 
Bot berharap, kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Belanda semakin mempererat hubungan dua negara. Keinginan Bot untuk mempererat hubungan dua bangsa ini berangkat dari ikatan sejarah pribadi yang tak bisa diingkarinya. ”Indonesia adalah tanah kelahiran saya. Saya memiliki hubungan yang spesial dengan Indonesia. Saya masih punya kenangan yang tak terlupakan terhadap Indonesia,” kata Ben, yang meninggalkan Indonesia pada usia sembilan tahun.
Di sisi lain, dia berdarah Belanda tulen. Ayah Bot ke Indonesia untuk bekerja di proyek pembangunan jembatan dan rel kereta api di Jawa. ”Maka pada waktu saya punya kekuasaan (sebagai Menteri Luar Negeri), saya mencoba untuk mengubah hubungan dua negara menjadi lebih baik,” kata dia.
Selain alasan yang bersifat emosional, Ben memiliki perspektif global. Menurut dia, globalisasi mendorong negara-negara untuk memperbaiki hubungan dengan negara lain yang pernah bermasalah di masa lalu. Misalnya, antara Amerika Serikat dan Vietnam, bahkan juga antara Belanda dan Jerman. Globalisasi memang telah mendorong bangsa-bangsa menjadi lebih terbuka dan berhubungan dengan negara lain dengan lebih setara. Dia berharap, ke depan, antardua bangsa memiliki hubungan erat di bidang perdagangan dan investasi. ”Sekarang negara di Eropa tertuju ke China atau Singapura di Asia. Kenapa tidak ke Indonesia? Padahal, Indonesia punya sumber daya alam yang sangat besar dan juga pendidikan. Indonesia memiliki masa depan yang menjanjikan,” kata dia.
Karena itu, Bot berharap, kedua negara bisa menormalisasi hubungan ke arah yang lebih baik, di banyak bidang dan sektor, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, dan politik. ”Belanda mengundang ribuan mahasiswa Indonesia untuk sekolah di kampus-kampus Belanda. Kita melakukan pertukaran pelajar yang intensitasnya naik dari tahun ke tahun. Di bidang ekonomi, saya ingin Indonesia jadi gerbang ekonomi Belanda di Asia, demikian sebaliknya Belanda menjadi gerbang ekonomi bagi Indonesia ke dunia Eropa,” kata dia.
Bagi Bot, upaya mempererat hubungan Indonesia-Belanda secara lebih setara dan saling menguntungkan, ibarat membayar uang kepada tanah kelahirannya.
Biografi:

  • Nama: Bernard Rudolf Bot alias Ben Bot
  • Lahir: Batavia, 21 November 1937
  • Pendidikan: – Fakultas Hukum, Universitas – Leiden, Belanda; Master bidang hukum, – Universitas Harvard, Cambridge, Massachusetts, AS; Doktor bidang hukum dari – Universitas Leiden
  • Karier: – Bekerja di Kementerian Luar – Negeri Belanda, 1963-2002 -
  • Perwakilan Belanda di – Organisasi Pakta Pertahanan – Atlantik Utara (NATO), – Brussels, Belgia, 1982-1986 – Duta Besar Belanda di Turki, – 1986-1989- Menteri Luar Negeri Kabinet – Balkenende III, 2003-2007

(dikutip dari: Arif, A. Membayar Utang Kepada Tanah Kelahiran. Artikel dalam Kompas 5 Oktober 2010)

1 komentar: