Senin, 13 Mei 2013

PELANGI DI LANGIT SINGASARI ( 3 )





Ken Dedes, Wiraprana dan Kuda Sempana
Mahisa Agni telah bersiap. Ia akan dapat menyerang Ken Arokdengan satu loncatan. Tetapi ketika hampir saja ia meloncatmenyerang, sekali lagi ia terkejut. Dilihatnya Ken Arok itu meloncatmundur dan tiba-tiba hantu padang rumput Karautan itu memutar tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya seperti kuda lepas dariikatannya. Sesaat Agni diam mematung. Namun kemudian ia pun meloncat mengejar hantu yang mengerikan itu.

Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena suara gurunya, “Agni! Biarkan ia lari. Kemarilah!”

Sekali lagi Agni tidak dapat memahami tindakan gurunya. KenArok adalah orang buruan yang berbahaya. Apakah orang itu akandilepaskannya? Tetapi Mahisa Agni berhenti juga. Dengan wajah yang tegang karena pertanyaan-pertanyaan yang bergelut didadanya, ia berjalan tergesa-gesa mendekati gurunya.

“Bapa,” katanya terbata-bata, “kenapa orang itu kita biarkanpergi?”


Empu Purwa menarik nafas. Perlahan-lahan orang tua itu berdiri.

“Marilah kita lanjutkan perjalanan kita,” berkata orang tua itu.Seakan-akan ia tak mendengar pertanyaan muridnya, bahkan katanya kemudian, “Kita tidak akan sampai tengah malam nanti.”

Karena pertanyaannya tidak dijawab, Agni menjadi semakin tidak puas. Tetapi ia diam saja. Ia pun kemudian berjalan di samping gurunya. Dengan matanya yang tajam, ditatapnya padang rumput yang terbentang di hadapannya. Beberapa tonggak lagi ia masih harus berjalan.Dalam keheningan malam itu kemudian terdengar suara gurunya lirih, “Agni, masihkah kau berpikir tentang hantu padang Karautan?”

Mahisa Agni menoleh. Kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya Bapa.”
“Apa yang kau lihat pada anak muda itu?” bertanya gurunya.
Mahisa Agni tidak tahu maksud gurunya. Karena itu untuk sesaat ia tidak menjawab sehingga Empu Purwa mengulangi, “Adakah sesuatu yang aneh yang kau lihat pada Ken Arok?”

“Apakah yang aneh itu?” bertanya Mahisa Agni.
“Itulah yang aku tanyakan kepadamu. Sesuatu yang tidak ada pada kebanyakan manusia,” sahut gurunya.
Mahisa Agni termenung sejenak. Dicobanya untuk membayangkan kembali tubuh lawannya. Dada yang bidang, sepasang tangan yang kokoh kuat, rambut yang liar berjuntai sampai ke pundaknya, dan wajahnya yang tampan namun penuh kekasaran dan kekerasan.

Tiba-tiba Agni menggeleng, gumamnya seperti kepada diri sendiri, “Tak ada. Tak ada yang aneh padanya.”
Empu Purwa mengangguk-angguk. Pikirnya, “Aku sudah menduga bahwa Agni tak melihat cahaya di ubun-ubun Ken Arok.”
Tetapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Memang tidak ada Agni namun ada cerita yang aneh tentang anak muda yang menjadi buruan itu.”

Mahisa Agni mengawasi wajah gurunya dengan seksama. Tetapi tak dilihatnya kesan apa pun pada wajah yang tua itu. Mungkin karena gelapnya malam. Mungkin karena di wajah pendeta tua itu segala sesuatu menjadi tenang, setenang permukaan telaga yang terlindung dari sentuhan angin.

Tetapi kemudian terdengar Empu Purwa berkata, “Agni, tak banyak yang aku dengar tentang asal-usul Ken Arok. Tetapi aku pernah mendengarnya dari mulut beberapa orang pendeta. Di antaranya pendeta di Sagenggeng. Bahwa dari kepala Ken Arok itu memancar cahaya yang kemerah-merahan. Dan cahaya yang demikian adalah ciri dari mereka yang dikasihi oleh Brahma.”
“Kalau demikian…?” kata-kata Mahisa Agni terputus.
“Ya,” Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ken Arok adalah kekasih Brahma. Bahkan orang pernah menganggap bahwa Ken Arok adalah pecahan Dewa Brahma sendiri.”

Mahisa Agni menundukkan wajahnya, ditatapnya ujung kakinya berganti-ganti. Tiba-tiba teringatlah ia kepada trisula di tangannya. Ya, di tangan kirinya masih digenggamnya tangkai trisula yang terlalu kecil baginya.Tanpa sesadarnya, diamatinya trisula itu dengan seksama. Trisula itu benar-benar berkilauan namun tidak sampai menyilaukan baginya.
Mahisa Agni terkejut ketika didengarnya gurunya berkata, “Agni, cerita tentang trisula itu sama anehnya dengan cerita tentang orang buruan itu.” Agni mengangkat wajahnya. Sekali lagi dipandangnya wajah gurunya. Wajah yang sepi hening.
“Trisula itu adalah hadiah dari Siwa,” Empu Purwa meneruskan. Memang cerita itu aneh bagi Mahisa Agni. Karena itu ia menjadi heran. Kekasih Brahma yang hampir setiap saat menjalankan kejahatan, dan senjata hadiah Siwa di tangannya. Adakah dengan demikian berarti bahwa membenarkan segala macam kejahatan itu? Meskipun pertanyaan itu tidak terucapkan namun

Empu Purwa telah dapat menangkap dari wajah muridnya, maka katanya, “Agni. Jangan kau risaukan apa yang sedang dilakukan oleh Brahma, Siwa, dan Wisnu sekali pun. Kalau pada suatu saat, orang-orang yang menurut cerita bersumber pada kekuatan Brahma harus berhadapan dengan orang-orang bersumber pada kekuatan Siwa atau Wisnu, itu bukanlah hal yang perlu kau herankan. Sebab, baik Siwa, Brahma, maupun Wisnu itu sendiri merupakan pancaran dari Maha Kekuasaan Yang Esa. Dan keesaan kekuasaan itulah yang mengatur mereka. Apa yang dilakukan Brahma, Wisnu, dan Siwa adalah satu rangkaian yang bersangkut-paut dengan tujuan tunggal. Apa yang diadakan oleh kekuasaan itu, kemudian dipeliharanya untuk kemudian, apabila sampai saatnya, dihancurkannya.”
Kini Mahisa Agni dapat mengerti apa yang dikatakan oleh gurunya. Dan setapak demi setapak mereka mendekati rumah mereka. Desa Panawijen. Ketika mereka menjadi semakin dekat semakin dekat maka lupalah Mahisa Agni kepada Ken Arok, pada trisula di tangannya, pada cerita tentang Brahma dan Siwa, serta pada perkelahian yang baru saja dialami. Yang ada di dalam angan-angannya kemudian adalah kampung halamannya. Kampung halaman di mana ia meneguk ilmu dari gurunya, Empu Purwa.
Yang mula-mula hadir di dalam angan-angannya adalah seorang gadis yang memiliki kecantikan seperti yang dirindukan oleh bidadari sekali pun. Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi heran, apabila dibandingkannya wajah gadis itu dan wajah ayahnya. Ayahnya bukanlah seorang yang berwajah tampan pada masa mudanya. Entahlah kalau ibunya seorang bidadari yang kamanungsan. Mahisa Agni belum pernah melihatnya. Bahkan anak gadis itu sendiri pun tak dapat mengingat wajah ibunya lagi. Dan gadis yang bernama Ken Dedes itu, di matanya tak ada yang memadainya. Sehingga tidaklah aneh bahwa setiap mulut yang tersebar dari lereng timur Gunung Kawi sampai ke Tumapel pernah menyebut namanya.

Tetapi gadis itu terlalu bersikap manja kepadanya, seperti seorang adik kepada seorang kakak yang sangat mengasihinya. Mahisa Agni tidak begitu senang pada sikap itu. Seharusnya Ken Dedes tidak menganggapnya sebagai seorang kakak. Tiba-tiba wajah Agni menjadi kemerah-merahan. Ia tidak berani meneruskan angan-angannya. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri. Perlahan-lahan Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ia terkejut ketika terdengar gurunya berkata, “Agni, sebaiknya kau kembalikan trisula itu kepadaku. Aku mengharap bahwa kelak kau akan dapat memilikinya.”
“Oh,” terdengar sebuah desis perlahan dari mulut Agni. Cepat-cepat ia menyerahkan senjata aneh itu kepada gurunya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Kemudian mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Sudah tidak seberapa jauh lagi. Dari desa di hadapan mereka, terdengarlah kokok ayam jantan bersahut-sahutan.
“Hari menjelang pagi,” desis Empu Purwa.
“Kita terhalang di padang Karautan,” sahut Mahisa Agni.

Kembali mereka berdiam diri. Dan kembali Mahisa Agni berangan-angan. Kini yang hadir di dalam benaknya adalah sahabatnya. Seorang pemuda yang tampan, bertubuh tinggi tegap, bermata hitam mengkilat. Anak muda itu adalah putra Ki Buyut Panawijen. Mahisa Agni adalah seorang pemuda yang tangguh, yang hampir sempurna dalam ilmu tata beladiri dan tata bermain senjata. Berkelahi seorang diri dan bertempur dalam gelar-gelar perang. Sedangkan Wiraprana, anak muda putra Ki Buyut Panawijen, adalah seorang anak muda yang tak banyak perhatiannya pada ilmu tata beladiri meskipun dipelajarinya serba sedikit dari ayahnya. Meskipun anak muda itu rajin bekerja namun ia tidak setekun Mahisa Agni dalam menempa diri. Meskipun demikian, karena Agni tidak biasa menunjukkan kelebihannya, keduanya dapat bergaul dengan rapatnya. Mereka memasuki desa mereka pada saat cahaya merah membayang di timur. Ketika mereka, Empu Purwa dan Mahisa Agni, memasuki halaman rumah mereka yang dikelilingi oleh pagar batu setinggi orang, mereka melihat api menyala di ujung dapur.

“Ken Dedes sudah bangun,” berkata Empu Purwa perlahan.
Mahisa Agni tidak menjawab. Sejak semula ia sudah menyangka bahwa Ken Dedes dan para endanglah yang sedang merebus air sambil menunggu kedatangan mereka. Sekali mereka berjalan melingkari pertamanan di tengah-tengah halaman yang luas itu. Kemudian mereka berjalan di tanggul kolam yang berair bening. Di siang hari, kolam itu dipenuhi oleh itik, angsa, dan berati, berenang dengan riangnya. Kedatangan mereka disambut oleh Ken Dedes dengan penuh kemanjaan. Dengan bersungut-sungut terdengar ia bergumam, “Ayah terlalu lama pergi bersama Kakang Agni. Semalam aku tidak tidur. Ayah berkata bahwa selambat-lambatnya senja kemarin sampai di rumah. Tetapi baru pagi ini ayah sampai.”
“Agni kerasan di Tumapel,” jawab Empu Purwa.
“Ah,” desah Ken Dedes, “barangkali gadis-gadis Tumapel menahannya.”
Mahisa Agni tersenyum kemalu-maluan. Ia tidak mau disangka demikian, namun ia tidak dapat mengatakan keadaan yang sebenarnya di padang Karautan. Karena itu menyahut, “Aku berburu kelinci di Padang Karautan.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Katanya, “Ayah melewati padang rumput itu?”
Empu Purwa mengangguk.
“Tidaklah Ayah takut kepada hantu yang sering menghadang orang lalu di padang rumput itu?” desak Ken Dedes.
Sekali lagi Empu Purwa menggeleng. Ken Dedes tidak bertanya lagi tetapi wajahnya Nampak bersungguh-sungguh. Tiba-tiba Ken Dedes melangkah maju mendekati Mahisa Agni. Ditatapnya sesuatu pada wajah anak muda itu.
“Kenapa wajahmu, Kakang?” bertanya Ken Dedes kemudian sambil meraba pipi Mahisa Agni. Baru pada saat itu Mahisa Agni merasa wajahnya nyeri. Sebuah jalur kemerah-merahan membujur di wajahnya, di samping noda yang kebiru-biruan. Sekilas terasalah tangan hantu Karautan menghantam wajahnya itu pada saat ia berkelahi.
“Pipiku tersangkut dahan pada saat aku merunduk menangkap kelinci,” jawab Agni.
Meskipun Ken Dedes tidak bertanya lagi namun tampaklah kerutkerut di keningnya sebagai pertanyaan hatinya. Sesaat kemudian mereka telah duduk menghadapi minuman hangat. Air daun sereh dengan gula aren telah menyegarkan tubuh mereka.
“Kau terlalu lelah Agni,” berkata Empu Purwa. “Beristirahatlah.” Sebenarnyalah bahwa Agni terlalu lelah.. Karena itu ia pun segera beristirahat pula. Betapapun lelahnya namun Agni tidak dapat tidur terlalu lamaTetapi kali ini Mahisa Agni terlambat juga. Ketika ia membuka mata, dilihatnya cahaya matahari telah memanasi dinding-dinding ruang tidurnya. Karena itu segera ia bangkit dan segera pula dengan tergesa-gesa pergi ke belakang membersihkan diri. Ketika ia melangkah kembali masuk ke ruang dalam, Mahisa Agni terkejut mendengar sapa perlahan-lahan, “Kau kerinan, Agni.”
Agni menoleh. Dilihatnya di sudut bale-bale besar yang terbentang di ruangan itu, Wiraprana duduk bersila. Senyumnya yang segar membayang di antara kedua bibirnya. Agni pun tersenyum pula. Jawabnya, “Aku terlalu lelah.”
 “Selesaikan dirimu. Kita pergi ke sawah kalau kau tidak terlalu lelah,” ajak Wiraprana.
Agni tidak menjawab. Segera ia membenahi diri. Sesaat kemudian mereka berdua telah turun ke halaman. Beberapa kali mata Agni mengitari seluruh ruangan dan halaman rumahnya untuk mencari Ken Dedes. Namun gadis itu tak ditemuinya. Ketika di halaman ia berpapasan dengan seorang cantrik, maka ia bertanya,
“Ke mana Ken Dedes?”
“Ke sungai, Ngger,” jawab cantrik itu.
“Apa yang dilakukan?” desak Agni.
“Ken Dedes membawa kelenting dan dijinjingnya bakul cucian,” jawab cantrik itu pula.
Agni tidak bertanya lagi. Dan keduanya berjalan pula keluar halaman. Tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika mereka melihat debu yang berhamburan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari tidak terlalu kencang. Kuda itu berjalan searah dengan Agni dan Wiraprana. Agni melihat kuda yang besar dan tegar itu dengan kagumnya. Di punggung kuda itu duduk seorang pemuda dengan pakaian yang rapi dan teratur. Kain lurik merah bergaris-garis cokelat, celana hitam mengkilat, dan timang bermata berlian. Di punggungnya terselip sebuah pusaka, keris berwrangka emas.

Melihat anak muda yang duduk di atas punggung kuda itu wajah Agni menjadi terang. Ia tertawa sambil melambaikan tangannya dan dari sela-sela tertawanya terdengar ia menyapa, “Kuda Sempana!”
Wiraprana berdiri saja di tempatnya. Ia melihat Agni dengan bibir yang ditarik ke sisi. Bisiknya, “Kau akan kecewa, Agni.”
Meskipun Agni mendengar bisik sahabatnya namun ia tidak segera menangkap maksudnya. Ia masih tegak di tepi jalan menanti anak muda yang berkuda dengan gagahnya itu. Mula-mula Mahisa menyangka bahwa Kuda Sempana tidak melihatnya. Karena itu sekali lagi menyapa, “He, Kuda Sempana!”
Anak muda yang bernama Kuda Sempana itu memperlambat kudanya. Dilemparkan pandangannya ke arah Mahisa Agni. Namun hanya sebentar. Ia mengangguk tanpa kesan. Kemudian ia melanjutkan perjalanan. Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kuda Sempana baru beberapa tahun meninggalkan kampung halaman. Apakah anak itu telah melupakannya? Untuk meyakinkan dirinya, Mahisa Agni masih tetap berdiri menanti Kuda Sempana. Tetapi ia menjadi kecewa ketika tiba-tiba kuda yang dinaikinya membelok masuk ke halaman. Justru halaman rumah gurunya.
“Bukankah itu Kuda Sempana?” tanpa sesadarnya Agni bertanya.
“Ya,” jawab Wiraprana.
 “Aneh,” berkata Agni seperti orang yang menyesal.
“Sudah aku katakan,” jawab Prana, “kau akan kecewa. Dua hari yang lampau, aku menyesal pula seperti kau sekarang. Anak itu sekarang menjadi pelayan dalam dari Akuwu Tunggul Ametung. Ia menjadi kaya dan tak mengenal kita lagi.”
“Barangkali ia tergesa-gesa,” Agni mencoba untuk memuaskan hatinya sendiri.
“Aku telah mengalami dua hari yang lampau. Ia memandangku seperti orang asing,” sahut Prana.
Tetapi Mahisa Agni belum yakin. Tak masuk di akalnya bahwa hanya karena menjadi pelayan dalam Akuwu Tumapel, seseorang dapat melupakan kawan-kawan bermain sejak masa kanak-kanaknya.
Wiraprana melihat keragu-raguan itu. Maka katanya sambil tersenyum, “Agni, agaknya kau tidak yakin akan kata-kataku. Cobalah kau temui anak itu.”
“Marilah,” ajak Agni.
Wiraprana menggeleng. Jawabnya, “Aku segan. Tak ada gunanya. Aku akan mendahului. Aku tunggu kau di atas tanggul.” Mahisa Agni sejenak menjadi ragu-ragu. Karena itu akhirnya ia berkata, “Baiklah Prana, tunggulah aku di atas tanggul. Aku segera menyusul.”
Sekali lagi Wiraprana tersenyum. Kemudian mendahului Agni, yang karena keinginannya untuk mengetahui keadaan Kuda Sempana, berjalan kembali ke halaman rumahnya.Ketika ia memasuki halaman, dilihatnya Kuda Sempana masih berada di atas punggung kudanya. Dengan sikap seorang bangsawan ia sedang bercakap-cakap dengan seorang cantrik.
“Sudah lama ia pergi?” terdengar Kuda Sempana itu bertanya.
“Sudah Angger,” jawab cantrik itu.
“Sendiri?” bertanya Kuda Sempana.
“Dengan beberapa endang, Angger,” jawab cantrik itu. Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditebarkan pandangannya ke seluruh sudut halaman. Dan ketika dilihatnya Mahisa Agni, Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Mahisa Agni tersenyum dengan ramahnya. Dengan akrabnya ia berkata, “Sempana. Alangkah gagahnya kau sekarang.”
Anak muda itu memandang Mahisa Agni dengan tajam. Kemudian katanya, “Ya.”
Jawaban itu terlalu pendek bagi dua orang kawan yang telah lama tidak bertemu. Meskipun demikian Agni masih menyapanya lagi, “Apakah keperluanmu? Adakah aku dapat membantumu?”
Kuda Sempana menggeleng, “Aku tergesa-gesa.”
Perasaan kecewa mulai menjalari dada Mahisa Agni. Percayalah ia sekarang kepada Wiraprana bahwa hal yang diragukan itu benarbenar dapat terjadi.
Namun sekali lagi Agni bertanya, “Adakah sesuatu pesan untuk Bapa Pendeta?”
Sempana menggeleng. “Tidak,” katanya, “Aku tidak mempunyai sesuatu keperluan dengan Empu Purwa. Aku datang untuk putrinya.”
Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Agni. Tetapi ia mencoba menguasai perasaannya. Dan tahulah ia sekarang, siapakah yang ditanyakan oleh Sempana kepada cantrik itu. Mahisa Agni terkejut ketika kemudian terdengar Kuda Sempana berkata, “Aku tidak mempunyai banyak waktu.”
Anak muda yang gagah itu tidak menunggu jawaban siapa pun. Segera ia menarik kekang kudanya, dan kuda yang tegar itu pun berputar. Sesaat kemudian kuda itu telah menghambur meninggalkan halaman yang luas dan sejuk itu. Ketika Kuda Sempana telah hilang di balik pagar, bertanyalah cantrik itu kepada Mahisa Agni, “Bukankah anak muda itu Angger Kuda Sempana?”
“Ya,” jawab Agni sambil mengangguk-angguk kepalanya.
“Tetapi,” cantrik itu meneruskan, “bukankah anak muda itu kawan Angger Agni bermain-main seperti Angger Wiraprana?”
Agni mengangguk. Ditatapnya sisa-sisa debu yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang mengagumkan itu. Jawabnya, “Begitulah.”

selanjutnya 

1 komentar:

  1. http://beritamurnivip99.blogspot.com/2017/11/kulkas-dan-freezer-berbau-lakukan-hal.html
    http://beritamurnivip99.blogspot.com/2017/11/ketagihan-manisnya-kopi-instan-berujung.html
    http://beritamurnivip99.blogspot.com/2017/11/kentut-akan-dijadikan-terapi.html
    http://beritamurnivip99.blogspot.com/2017/11/wanita-as-tewa-usai-jalani-proses-sedot.html

    Tunggu Apa Lagi Guyss..
    Let's Join With Us At Dominovip.com ^^
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami :
    - BBM : D8809B07 / 2B8EC0D2
    - Skype : Vip_Domino
    - WHATSAPP : +62813-2938-6562
    - LINE : DOMINO1945.COM
    - No Hp : +855-8173-4523

    BalasHapus