Minggu, 09 Juni 2013

PELANGI DI LANGIT SINGASARI ( 4 )



Cantrik itu tidak bertanya lagi ketika dilihatnya sorot mata Agni yang aneh. Agni pun kemudian tidak berkata-kata pula. Diayunkan kakinya keluar halaman. Ia telah berjanji pergi ke tanggul, Wiraprana menunggunya. Tanggul yang dimaksud Wiraprana adalah tanggul sebuah bendungan dari sebuah sungai kecil yang membujur agak jauh dari desanya. Dari sungai itulah sawah-sawahnya mendapat aliran air. Karena itu, baik Agni maupun Wiraprana sering benar pergi ke tanggul itu. Bahkan bukan saja anak-anak muda namun gadis-gadis pun selalu pergi ke sungai itu untuk mencuci pakaian-pakaian mereka dan mandi di belumbang kecil di bawah bendungan.

Wiraprana yang sudah sampai di pinggir kali, duduk dengan enaknya di atas sebuah batu padas yang menjorok agak tinggi. Wiraprana meredupkan matanya ketika ia melihat seekor kuda berlari kencang ke arahnya. Segera ia mengenal bahwa di atas punggung kuda itu duduk Kuda Sempana.  Ketika Wiraprana melayangkan pandangannya ke belumbang kecil di bawah bendungan itu, dilihatnya beberapa orang gadis sedang mencuci. Satu di antara mereka adalah gadis yang dikenalnya dengan baik, sebaik ia mengenal Mahisa Agni. Gadis yang namanya selalu disebut oleh hampir setiap pemuda di kaki Gunung Kawi itu. Gadis itu adalah Ken Dedes.
Wiraprana menarik nafas. Tetapi kemudian ia dikejutkan oleh derap kaki kuda di sampingnya. Sekali lagi ia berkisar ke balik batu itu. Ia benar-benar tidak mau bertemu lagi dengan Kuda Sempana setelah hatinya dikecewakan dua hari yang lampau. Ia menahan nafas ketika ia melihat Sempana berjalan hanya beberapa langkah di mukanya, kemudian membelok ke kanan, menuruni tebing sungai.
Beberapa orang gadis yang melihat kedatangan anak muda itu menjadi heran. Mereka telah biasa melihat Wiraprana, Mahisa Agni, dan anak-anak muda dari desa mereka berada di atas tanggul bendungan itu. Namun anak muda dengan pakaian yang sedemikian lengkapnya adalah jarang mereka lihat. Tetapi ketika anak muda itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengarlah hampir bersamaan dari mulut gadis-gadis itu sebuah sapa yang riang, “Kuda Sempana!”
Tetapi sapa itu sama sekali tak berbekas di wajah Kuda Sempana yang seakan-akan telah membeku. Meskipun kemudian gadis-gadis itu menjadi riuh, namun Sempana sama sekali tak terpengaruh olehnya, sehingga akhirnya gadis-gadis itu pun menjadi heran dan berhenti dengan sendirinya. Tetapi di antara mereka, tampaklah Ken Dedes menjadi pucat.
Ia melihat kedatangan Kuda Sempana seperti melihat hantu. Untunglah tak seorang pun dari kawan-kawannya memperhatikannya.

Kuda Sempana kemudian berdiri tegak di tepi belumbang kecil itu “Ken Dedes,” kemudian terdengar kata-kata itu meluncur dari mulutnya. Oleh kata-kata Sempana itu maka gadis-gadis itu pun seperti terpikat oleh sebuah pesona, bersama-sama menoleh ke arah Ken Dedes yang kemudian menundukkan wajahnya. Ken Dedes sama sekali tidak menjawab sapa itu. Ketika sekali lagi ia mendengar anak muda itu memanggilnya maka ditundukkannya wajahnya semakin dalam.

“Ken Dedes,” berkata Sempana kemudian, “aku tidak banyak mempunyai waktu. Tinggalkan cucianmu sebentar. Ada sesuatu yang akan aku katakan kepadamu.”
Mereka memuji ketampanan Kuda Sempana namun mereka berteka-teki pula, mengapa Kuda Sempana menemui seorang gadis di pemandian.
Sudah tidak adakah waktu yang lain?
“Aku telah datang ke rumahmu, Ken Dedes,” Kuda Sempana meneruskan, “Tetapi kau tak ada. Karena itu aku terpaksa menyusulmu.”
“Kakang Sempana,” akhirnya Ken Dedes terpaksa menjawabnya, “Tunggulah aku di rumah. Aku akan dapat membicarakannya dengan ayah dan Kakang Agni.”
“Marilah kita pulang bersama-sama,” ajak Sempana.
“Aku belum mandi,” bantah Ken Dedes, “dan cucianku belum selesai. Bukankah hari masih terlampau pagi?”
“Besok aku harus kembali ke Tumapel,” sahut Kuda Sempana, “siang nanti aku akan berkemas. Seandainya kau bersedia…”

Ken Dedes menjadi semakin gemetar. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan. Tetapi pasti bahwa ia tak dapat memenuhi permintaan Kuda Sempana. Karena Ken Dedes tidak segera menjawab, Sempana mendesaknya, “Ken Dedes, berpakaianlah!”
Nafas Ken Dedes menjadi sesak. Apalagi ketika didengarnya Kuda Sempana meneruskan, “Bukankah tidak baik apabila aku menyatakan maksudku di sini?”
Mulut Ken Dedes telah benar-benar seperti membeku. Adalah suatu aib yang mencoreng di wajahnya apabila kemudian Sempana tak dapat menahan hatinya dan melamarnya langsung tidak setahu ayahnya. Meskipun ia dapat menolak tetapi sikap yang demikian dari seorang pemuda adalah sikap yang tercela. Maka merataplah Ken Dedes di dalam hatinya, “Apakah aku ini termasuk dalam lingkaran gadis-gadis yang demikian sehingga Sempana memperlakukan aku begini?” Tetapi Sempana, pelayan dalam Akuwu Tumapel itu, benar-benar seperti orang mabuk. Katanya, “Ken Dedes, bukankah sejak aku pulang, aku telah berkata kepadamu bahwa suatu ketika aku akan datang ke rumahmu? Seharusnya kau tahu akan maksudku itu. Karena itu sekarang marilah kita pulang.”

Ken Dedes masih saja menundukkan wajahnya. Karena itu kemudian Kuda Sempana menjadi tidak sabar lagi. Dada Ken Dedes pun menjadi semakin sesak. Hatinya menjadi tegang. Dalam kebingungan itu, tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang lain dari suara Kuda Sempana. Tidak terlalu keras namun kata demi kata dapat didengarnya dengan baik. Katanya, “Kuda Sempana, adakah kau akan ikut serta mencuci pakaianmu di belumbang ini?”

Kuda Sempana terkejut. Ketika ia menoleh, dilihatnya Wiraprana berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Karena itu wajah Sempana segera menjadi merah. Dengan cepatnya ia memutar tubuhnya menghadap Wiraprana. Dan dengan suara lantang ia berkata, “Apa kerjamu di sini?”
“Menunggui tanggul,” jawab Wiraprana singkat.
Kuda Sempana menggeram. Ia benar-benar menjadi marah. Katanya, “Kau mencoba mencampuri urusanku?”
Wiraprana mengerutkan keningnya, “Apa yang aku campuri? Setiap hari aku berada di tempat ini. Mengail, membuka parit, mencuci pakaian, dan segala macam pekerjaan anak desa. Kaulah yang aneh. Seorang pelayan dalam Tumapel berada di bendungan.”
“Tutup mulutmu!” bentak Sempana.

Gadis-gadis yang melihat peristiwa itu menjadi ketakutan pula. Tubuh mereka bergetaran dan dada mereka menjadi sesak. Apalagi Ken Dedes sendiri. Meskipun ia merasa bersyukur pula atas kehadiran Wiraprana
namun agaknya Kuda Sempana memandang kehadiran Wiraprana
sebagai tantangan. Kuda Sempana tidak menjadi malu atau segan,
bahkan ia bersikap sebagai lawan. Pada saat Wiraprana berada di balik batu padas, dilihatnya sikap Kuda Sempana yang kurang wajar. Karena itu perlahan-lahan ia merunduk di balik-balik batu mendekatinya. Meskipun ia tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi namun adalah pasti baginya bahwa
Ken Dedes berada dalam kesulitan. Maka sikap Sempana itu adalah merupakan penjelasan baginya. Anak muda yang sombong itu benar-benar telah berbuat suatu kesalahan. Karena itu jawabnya tatag, “Kuda Sempana. Jangan terlalu kasar. Bukankah dahulu kau setiap hari juga berada di bendungan ini. Bahkan malam hari pun kau kadang-kadang tidur di atas pasir di tepian itu bersama-sama aku? Marilah kita bersikap wajar. Juga terhadap gadis-gadis, kau sebaiknya bersikap wajar.”

“Jangan gurui aku anak desa yang sombong. Selama hidupmu kau dikungkung oleh kepicikan akal dan kesempitan pengetahuan,” jawab Sempana, “Aku telah mencoba berlaku sopan kepada Ken Dedes. Aku hanya ingin persoalanku cepat selesai.”
“Soalmu dan Ken Dedes benar-benar bukan urusanku,” sahut Wiraprana, “Kalau kalian berdua telah bersepakat maka adalah suatu dosa bagiku apabila aku datang kepadamu sekarang. Tetapi aku melihat sikap Ken Dedes lain dari sikap yang kau harapkan. Dan kau terlalu bersikap garang kepadanya.”
“Wiraprana!” bentak Kuda Sempana, “sekali lagi aku peringatkan, tinggalkan tempat ini!”
“Jangan bersikap demikian, Sempana,” jawab Wiraprana, “Jangan bersikap seperti orang hendak berkelahi. Aku bukan orang yang biasa berbuat demikian. Namun aku hanya ingin memperingatkan kepadamu. Pulanglah. Pergilah kepada ayahnya dan biarlah ayahnya bertanya kepadanya, apakah ia bersedia menerima kehadiranmu di dalam perjalanan hidupnya.”

Kuda Sempana yang sombong itu tidak mau lagi mendengar kata-kata Wiraprana. Tangan kanannya terayun menampar mulut Wiraprana. Gerak
Sempana cepat seperti kilat sehingga Wiraprana tak sempat mengelak.  Wiraprana terkejut. Ia terdorong beberapa langkah ke samping. Tetapi untunglah bahwa ia tidak terbanting ke air.
“Sempana,” katanya sambil berdesis menahan sakit, “jangan terlalu kasar.”
“Diam!” bentak Kuda Sempana, “Tinggalkan tempat ini!”
“Kau telah melanggar kebiasaan kampung halaman kita, Sempana,” berkata Wiraprana lantang, “adat itu tetap kita hormati.”
Sekali lagi Kuda Sempana tidak dapat mengendalikan dirinya. Tangannya terayun kembali ke wajah Wiraprana. Namun, kali ini Wiraprana tidak mau dikenai untuk kedua kalinya. Karena itu cepatcepat ia membungkukkan badannya. Tangan Kuda Sempana hanya sejari terbang di atas kepalanya. Tetapi Sempana adalah pelayan dalam istana sehingga, ketika dirasa tangannya tak menyentuh tubuh Wiraprana, segera ia mengulangi serangannya. Geraknya benarbenar tak diduga oleh Wiraprana. Sekali lagi Wiraprana terdorong ke samping dan sekali lagi ia berdesis menahan sakit.

Ketika Wiraprana telah tegak kembali, terdengarlah giginya gemeretak dan matanya memancarkan sinar kemarahan. Bagaimanapun juga Wiraprana adalah laki-laki juga seperti Kuda Sempana. Karena itu katanya lantang, “Kuda Sempana. Jangan membusungkan dada hanya karena kau telah mendapat kedudukan baik di samping Akuwu Tunggul Ametung. Persoalanmu adalah persoalan adat kampung halaman.”

“Apa pedulimu!” bentak Kuda Sempana, “Kalau aku tidak dapat menemui ayah gadis yang aku senangi, aku masih mempunyai cara lain. Aku akan melarikannya. Kelak aku akan kembali dengan seorang cucu yang manis bagi Empu Purwa. Dan ia harus menerima kedatangan kami.”
Wajah Wiraprana menjadi merah padam. Katanya kepada KenDedes, “Adakah kau telah bersepakat untuk kawin lari?”
“Tidak! Tidak!” teriak Ken Dedes serta-merta.
“Hem,” geram Wiraprana kepada Kuda Sempana, “kalau kau telah bersepakat, aku tak dapat menghalangimu. Tetapi kalau tidak, dan kau akan memaksakan cara itu, aku akan mencegahmu.”
Kuda Sempana tertawa dengan sombongnya. Katanya, “Bagus. Seseorang dibenarkan untuk melakukan pencegahan. Tetapi tatacara itu pun menuntut pengorbanan bagi gadis yang diidamkan . Nyawaku menjadi taruhan.”
Wiraprana mengangkat alisnya. Ia ngeri mendengar kata-kata Kuda Sempana. Mengorbankan nyawa berarti kematian. Dan ia ngeri memikirkan kematian. Tetapi ia harus mencegahnya. Karena itu katanya, “Aku tidak menghendaki bencana apa pun. Baik bagimu maupun bagiku. Tetapi aku hanya akan mencegahmu.”
Kuda Sempana tidak sabar lagi. Dengan berteriak nyaring, ia meloncat menyerang Wiraprana. Tetapi kali ini Wiraprana berhasil mengelakkan serangan Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana tidak puas dengan serangannya yang gagal. Wiraprana yang bertubuh tinggi tegap itu cukup mempunyai kekuatan namun Kuda Sempana, yang tidak sebesar Wiraprana, mempunyai kelincahan yang mengagumkan.

 Gadis-gadis yang melihat perkelahian itu menjadi semakin ketakutan. Ken Dedes sendiri, seperti orang yang kehilangan kesadarannya, duduk di atas pasir di tepi belumbang. Ia takut melihat perkelahian itu namun ia terpaksa untuk melihatnya. Perkelahian yang demikian benar-benar jarang terjadi di Panawijen yang tenteram. Namun tiba-tiba mereka harus melihat sebuah perkelahian yang mengerikan.

Kuda Sempana benar-benar memiliki kelincahan dan ketangkasan. Sebagai seorang abdi yang dipercaya, Sempana mempunyai i ilmu tata berkelahi yang baik. Sedangkan Wiraprana, meskipun dari ayahnya, Buyut Panawijen, telah pernah dipelajarinya ilmu itu namun anak muda itu sama sekali tidak menekuninya. Karena itu, sesaat kemudian, terasa bahwa Wiraprana yang tinggi tegap itu tak akan dapat mengimbangi kelincahan dan ketangkasan lawannya. Untunglah bahwa pekerjaan-pekerjaan berat yang selalu dilakukan dapat menolongnya. Tubuhnya menjadi kuat dan untuk beberapa lama ia dapat menahan sakit yang menjalar hampir di setiap bagian tubuhnya.. Tetapi betapa kuat tubuh Wiraprana, akhirnya terasa juga semakin lama semakin menjadi lemah. Namun Wiraprana tak mau melepaskan lawannya.

Tetapi  terasa pula oleh Wiraprana bahwa akhirnya ia tak akan mampu berbuat apa-apa. Sesaat kemudian ia akan jatuh terjerembabKuda Sempana masih berkelahi dengan penuh nafsu. Meskipun ia sadar bahwa Wiraprana tak akan mampu menandinginya namun ia tetap berlaku kasar. Tangannya menjambak bertubi-tubi, dan bahkan Kuda Sempana menjadi semakin marah karena Wiraprana tidak segera jatuh. Karena itu, akhirnya ia berketetapan hati untuk menyelesaikan perkelahian itu. Dengan kedua tangannya ia menghantam wajah Wiraprana bertubi-tubi. Sekali wajah Wiraprana terangkat karena pukulan Kuda Sempana yang tepat mengenai rahangnya namun sesaat kemudian kepalanya terkulai ke samping oleh tangan lawannya yang lain.
Oleh keadaannya itu, hampir Wiraprana menjadi putus asa. Ia merasa bahwa ia tak akan dapat berbuat banyak. Terbayang di matanya kesudahan dari peristiwa itu. Panawijen akan berkabung. Anak Buyut Panawijen terbunuh dan putri Pendeta Panawijen dilarikan orang. Ketika Wiraprana hampir menyerahkan dirinya kepada nasib, lamat-lamat didengarnya Ken Dedes memekik kecil. Gadis itu menjadi ngeri ketika dilihatnya darah mengalir dari bibir dan hidung Wiraprana.

 Namun bagi Wiraprana, pekik itu seakan-akan telah menggugah kembali semangatnya. Tiba-tiba terpikir olehnya, kenapa gadis itu tidak saja lari dan pulang ke rumah. Karena itu tiba-tiba, dengan tidak menghiraukan keadaan dirinya, Wiraprana mendekap tubuh Kuda Sempana erat-erat. Bersamaan dengan itu terdengar ia berkata parau, “Ken Dedes, tinggalkan tempat ini. Cepat, sebelum aku kehabisan tenaga!”

Ken Dedes pun kemudian seperti orang bangkit dari mimpi. Segera ia meloncat berdiri dan berlari meninggalkan belumbang yang mengerikan itu. Sementara itu, Kuda Sempana menjadi marah bukan kepalang. Meskipun dengan sekuat tenaga ia menghantam tengkuk, punggung, dan kepala Wiraprana namun tangan itu seperti tangan yang telah melekat dengan jaringan kulitnya sendiri. Sehingga, karena marah, jengkel bercampur baur, ia pun berteriak, “Wiraprana, jangan gila. Kau tidak berkelahi seperti laki-laki. Lepaskan dan marilah kita berhadapan secara jantan.”

Tetapi Wiraprana tak mendengar kata-kata itu. Kuda Sempana mengempas-empaskan tubuhnya, menendang, memukul, dan segala macam. Apalagi ketika dilihatnya Ken Dedes telah berlari memanjat tebing. Tetapi tiba-tiba langkah Ken Dedes terhenti. Hampir saja ia melanggar sesosok tubuh yang tiba-tiba saja muncul dengan tergesa-gesa. Terdengarlah gadis itu memekik kecil tetapi kemudian terdengar ia berteriak nyaring, “Kakang Mahisa Agni!”

Mahisa Agni berdiri tegak seperti batu karang yang kokoh kuat di tepi lautan. Sesaat wajahnya menyapu berkeliling, kemudian terhenti pada tubuh-tubuh yang sedang bergulat di bawah bendungan. Dilihatnya Kuda Sempana dengan bengisnya menghujani tubuh Wiraprana yang menjadi semakin lemas. Dan bahkan akhirnya dilihatnya pelukan Wiraprana terlepas dan anak muda itu jatuh terkulai di atas pasir tepian.

Ketika tangan Wiraprana terlepas dari tubuhnya, segera Kuda Sempana meloncat berlari. Ia tidak mau melepaskan Ken Dedes lagi. Telah bulat hatinya untuk melarikan saja gadis itu. Kalau ia sempat menangkap dan membawanya ke atas kudanya. Ia tak perlu pulang. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dilihatnya Ken Dedes berdiri rapat di belakang seorang anak muda yang tegak seperti patung raksasa. Sebelum ia sempat berkata sepatah kata pun, terdengar batu karang itu seperti menggeram, “Kuda Sempana. Apakah yang telah kau lakukan?”

Mata Kuda Sempana seakan-akan menyala karena kemarahannya. Mahisa Agni itu pun akan mencoba menghalanghalanginya. Maka katanya, “Agni. Jangan bersikap seperti seorang perwira tamtama. Lihatlah Wiraprana. Ia telah mencoba melawan kehendakku.”
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kuda Sempana itu dahulu adalah kawannya bermain pula seperti Wiraprana. Tetapi tiba-tiba ia menjadi muak melihat wajah yang sombong itu. Maka katanya, “Kuda Sempana. Jangan kau mencoba memperkecil arti kami, anak-anak Panawijen. Kau juga anak dari tanah ini. Kau mampu menjabat pekerjaanmu sekarang. Demikian juga anak-anak yang lain. Kau telah menghina kampung halamanmu sendiri.”
“Diam!” bentak Kuda Sempana.“Kalau kau ingin mengalami nasibseperti Wiraprana, bilanglah.”

Selangkah demi selangkah Mahisa Agni berjalan maju, menuruni Tebing. Kemarahan di dadanya telah menjalari kepalanya. Ditatapnya wajahKuda Sempana seperti menatap wajah hantu. Tetapi yang berdiri di hadapannya sekarang bukan hantu Karautan yang menakutkan setiap orang. Yang ada di hadapannya tidak lebih dari Kuda Sempana. Tetapi Mahisa Agni tak pernah merendahkan orang lain. Diamatinya setiap lekuk kulit anak yang sombong itu. Pakaian yang mewah namun sudah kusut dan kotor karena perkelahiannya melawan Wiraprana.

Kuda Sempana, yang telah mendapat tempaan keprajuritan beberapa tahun di Istana Tumapel, itu pun tidak sabar lagi. Tak ada sepatah kata pun lagi yang meluncur dari mulutnya. Yang dilakukannya adalah langsung menyerang lawannya. Mahisa Agni telah bersiaga sepenuhnya. Karena itu, dengan cepat ia mengelakkan diri. Sekali ia melingkar dan dengan sapuan yang cepat, ia berhasil menyentuh lambung lawannya dengan tumitnya. Kuda Sempana sama sekali tidak menduga bahwa Mahisa Agni mampu bergerak sedemikian cepatnya. Karena itu, sentuhan itu telah memperingatkannya bahwa Mahisa Agni mampu mengelak dan sekaligus menyerang dengan cepatnya sehingga ia tidak seharusnya melayani Mahisa Agni seperti melayani Wiraprana yang tegap tinggi itu.

Tetapi Kuda Sempana terlalu percaya kepada dirinya. Karena itu, kembali ia membusungkan dadanya. Dengan penuh keyakinan kepada diri sendiri, Kuda Sempana meloncat dan menyerang kembali dengan garangnya. Namun Mahisa Agni menyambut serangan itu dengan tangkas. Disadarinya bahwa lawannya kali ini telah memiliki bekal yang cukup bagi kesombongannya. Karena itu Mahisa Agni sadar bahwa ia harus berhati-hati. Kuda Sempana menyerang Agni seperti badai yang melandalanda.

Namun Mahisa Agni benar-benar seperti gunung yang tegak tak tergoyahkan. Serangan-serangan Kuda Sempana, betapapun cepat dan kerasnya, tak banyak dapat menyentuh kulit Mahisa Agni. Sama sekali tak diduganya bahwa Mahisa Agni telah memiliki ilmu tata beladiri sedemikian baiknya. Anak itu dikenalnya beberapa tahun yang lalu sebagai anak yang patuh kepada gurunya, patuh melakukan ibadah, dan rajin bekerja di sawah ladang dan di rumah gurunya. Tetapi sama sekali tak diketahuinya bahwa di balik dinding-dinding batu yang memagari rumah Empu Purwa, Agni mendapat tempaan lahir dan batin. Ilmu yang akan dapat menjadi penguat tubuh dan nyawanya. Tubuhnya yang harus melawan setiap tantangan lahiriah dan nyawanya yang harus dipersiapkan untuk menghadap Yang Maha Agung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar