Senin, 22 September 2014

PELANGI DI LANGIT SINGASARI 6

Seri 1
Sebelumnya

“Angger Kuda Sempana,” kemudian terdengar orang tua itu berkata, “adakah angger tadi benar-benar bermaksud melarikan Ken Dedes?”
Kuda Sempana menggigit bibirnya. Ketika terpandang olehnya wajah Wiraprana yang bengap merah biru, dilihatnya anak muda yang tinggi besar itu tersenyum sambil mengangguk kecil.
“Persetan!” umpatnya di dalam hati namun mulutnya terpaksa menyahut, “Ya, Empu.”
Empu Purwa menarik nafas dan hampir setiap mulut kemudian mengucap berbagai kata-kata yang tidak jelas. Tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh pertanyaan Empu Purwa kepada Kuda Sempana, “Angger, adakah Angger menyesal?”
Pertanyaan itu benar-benar tak terduga. Karena itu Kuda Sempana tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Empu Purwa dengan ragu sSehingga Empu Purwa yang tua itu mengulangi pertanyaannya, “Angger, adakah Angger menyesal atas perbuatan itu?”

Pertanyaan itu jelas. Kata demi kata. Setiap orang tahu maksud pertanyaan itu. Namun Kuda Sempana masih belum menjawab. Di dalam dadanya timbullah suatu pergolakan yang riuh. Sudah pasti sama sekali tak dihendakinya apabila orang-orang sekampungnya akan beramairamai mengeroyoknya seperti seekor harimau yang tersesat masuk ke kampung. Tetapi untuk menarik diri terasa bahwa harga dirinya tersentuh. Ia tidak takut mati. Namun ia masih ingin menunda kematian itu. Meskipun demikian anak muda yang gagah itu pun tidak segera menjawab sehingga kemudian kembali terdengar suara pendeta tua itu, “Angger, aku tahu, betapa berat untuk mengucapkan kata-kata yang tak pernah terucapkan. Apalagi oleh seorang satria seperti Angger Kuda Sempana. Karena itu maka baiklah aku pakai cara seorang tua. Kalau Angger Kuda Sempana menyesal, sarungkanlah keris angger.”

Kembali keadaan menjadi tegang. Semua mata terpaku ke tangan Kuda Sempana yang menggenggam kerisnya erat-erat. Kuda Sempana sendiri pun memandang tangannya itu. Dan tangan itu menjadi gemetar. Ketika tangan Kuda Sempana itu bergerak perlahan-lahan maka orang-orang yang terdekat pun bergeser. Namun semua orang menarik nafas lega ketika mereka melihat, ujung keris yang gemetar itu manjing ke dalam wrangkanya.
“Syukurlah”’,berkata Empu Purwa kemudian sambil menganggukangguk kecil, “ternyata Angger berjiwa besar.”
Kemudian, pendeta tua itu pun berkata kepada Buyut Panawijen,“Ki Buyut, marilah persoalan ini kita hadapi dengan jiwa besar pula. Marilah semuanya ini kita lupakan.”
Ki Buyut Panawijen mengangguk-angguk pula. Di dalam hatinya pun tersimpan perasaan semacam itu. Meskipun di sudut hati itu yang paling dalam melengking pula pertanyaan, “Adakah Kuda Sempana itu akan dibiarkan membawa kesalahannya tanpa hukuman apapun?” Namun terdengar pula jawaban dari sudut yang lain, “Ayah gadis itu tak menuntutnya. Dan, bukankah anak muda itu pengawal dalam istana Tumapel.”

Akhirnya Buyut Panawijen itu pun berkata, “Angger Kuda Sempana. Angger telah berbuat kesalahan. Tetapi untunglah segala sesuatu masih belum terlanjur. Aku tak dapat menyalahkan Wiraprana dan Angger Mahisa Agni, bukan karena Wiraprana itu anakku. Berterima kasihlah Angger Sempana kepada anak-anak muda yang mencegah Angger, sebelum Angger sempat menyentuh gadis yang akan Angger larikan, sehingga kebebasan Angger dari setiap hukuman tidak terasa sebagai pelanggaran yang mutlak atas adat di kampung kita. Namun janganlah hal ini menjadi contoh. Kalau Empu Purwa menghendaki, hukuman itu mempunyai alasan yang cukup untuk dijatuhkan. Tetapi dengan demikian, peristiwa ini akan benar-benar mengganggu ketenteraman pedukuhan kita. Maka bijaksanalah Empu Purwa. Meskipun demikian, tak dapat angin lalu tanpa menggoyangkan daun-daun pepohonan. Karena itu, baiklah aku minta, sebagai orang yang diserahi tanggung jawab atas pedukuhan ini, agar Angger Kuda Sempana segera meninggalkan kampung kita. Jangan kembali sebelum sampai pada bilangan tahun.”

Kuda Sempana yang gagah itu mengerutkan keningnya. Ia memandang hampir semua orang yang berdiri di sekelilingnya. Hukuman yang jauh lebih ringan dari yang diduganya itu tidak juga menyenangkan hatinya. Terasa bahwa sejak saat itu, ia akan dipisahkan dari tanah kelahirannya, sedikitnya untuk setahun.
“Persetan tanah kelahiran yang beku ini!” pikirnya, “Di Tumapel aku mempunyai lingkungan yang jauh lebih baik dari orang-orang yang bodoh dan keras kepala ini. Apakah artinya bagiku, bendungan, belumbang, rumpon, sawah, parit, dan segala macam yang pasti akan menjemukan. Di Tumapel, aku dapat bermain-main dengan kuda, tombak, dan kemewahan.”
Tetapi Kuda Sempana memandang Ken Dedes yang masih duduk di pasir tepian. Terasa hatinya berdesir. Dan tiba-tiba menyalalah dendam yang membakar hatinya atas kampung halamannya, atas orang-orang yang melingkungi hidupnya semasa kanak-kanaknya. Dan dendam itu harus ditumpahkan. Kalau ia tak dapat memetik bunga dari lereng Gunung Kawi itu maka biarlah bunga itu akan digugurkan saja dari tangkainya. Sama sekali ia tidak rela melihat orang lain, apalagi pemuda-pemuda desa seperti Agni atau Wiraprana, kelak akan memetiknya.
Sekali lagi Kuda Sempana memandangi setiap wajah itu dengan muaknya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia meloncat pergi meninggalkan mereka dengan dendam yang membara di dadanya. Sesaat kemudian Kuda Sempana telah meloncat ke atas punggung kudanya yang sedang asyik makan rerumputan segar. Namun ketika terasa sentuhan pada lambungnya, segera kuda yang tegar itu menengadah dan meloncatlah ia dengan lajunya meninggalkan tepian sungai itu. Beberapa orang menarik nafas lega. Mereka seakan merasa terlepas dari bencana.
“Anak yang keras kepala,” desis Ki Buyut.
Tak seorang pun yang menyahut.
“Marilah kita tinggalkan tempat ini,” berkata Buyut Panawijen itu pula.
Beberapa orang yang lain pun segera bergerak mengikuti Buyut Panawijen itu. Tanpa berkata-kata sepatah pun, mereka mendaki tebing dan hilang di belakang tanggul.

Yang tinggal kemudian adalah Empu Purwa, Ken Dedes, Mahisa Agni, dan Wiraprana. Sedangkan gadis-gadis yang mengintip dari atas tanggul, satu demi satu menuruni tebing untuk mengambil cucian-cucian mereka yang tinggal di belumbang. Empu yang tua dan bijaksana itu mengeluh di dalam hatinya

Sebenarnya Empu Purwa yang telah cukup banyak mengenyam pahit manisnyakehidupan, segera dapat mengerti bahwa Kuda Sempana sama sekali tidak ikhlas atas keputusan yang diambilnya. Namun perasaan itu sama sekali tak diungkapnya. Tetapi betapa pendeta tua itu terkejut ketika terdengar suara Mahisa Agni lirih, “Bapa, adakah Kuda Sempana menerima keputusan ini dengan jujur?”
Empu Purwa memandang Agni dengan seksama. Ia pun sadar bahwa tidak mustahil orang-orang lain pun menyimpan pertanyaan yang demikian di dalam hatinya. Meskipun demikian ia menjawab, “Angger Kuda Sempana adalah seorang satria yang berjiwa besar. Seorang yang demikian akan melihat kenyataan dengan jujur.”
Mahisa Agni kecewa mendengar jawaban itu. Tetapi ia sadar,bahwa di kampung halamannya, gurunya itu tidak lebih dari seorang pendeta yang meluluhkan diri dalam ketekunan beribadah. Di pedukuhan yang tenteram damai itu, tak seorang pun yang pernah melihat bahwa Empu Purwa yang tua dan alim itu mampu menggenggam segala macam senjata di kedua sisi tangannya.Mampu menghantam hancur lawan yang betapa pun tangguhnya hanya dengan tangannya. Tetapi masa-masa yang demikian telah lampau bagi pendeta tua itu. Namun demikian, ia tidak menutup mata atas suatu kenyataan bahwa kadang-kadang kebenaran harus dibela dengan kemampuan yang demikian. Kebenaran dan keadilan yang dibenarkan oleh Yang Maha Agung. Karena itulah maka ia menempa anak muda yang bernama Agni itu. Semoga anak itu dapat mengamalkan ilmunya. Mengamalkan, dan bukan sebaliknya.

Pendeta tua itu tersentak ketika kemudian Wiraprana berkata, “Empu, aku melihat sesuatu membayang di wajah Kuda Sempana.”
“Apakah itu?” bertanya Empu Purwa.
“Dendam,” jawab Wiraprana.
“Oh,” sahut Empu Purwa, “Tidak. Jangan berprasangka, Ngger. Tak baik orang menyimpan dendam di dalam dirinya.”
“Yang menyimpan dendam itu bukan aku, Empu,” jawab Wiraprana sambil tersenyum, “tetapi Kuda Sempana.”
“Ya, ya,” potong pendeta itu cepat-cepat, “maksudku bukan Angger. Tetapi siapa saja,. semua orang.”
Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun wajahnya masih merah biru namun anak muda itu selalu tersenyum saja. Hanya kadang-kadang tampak ia menyeringai, kalau nyerinyeri di punggungnya terasa seperti menyengat-nyengat sampai ke ubun-ubun. Sesaat kemudian Empu Purwa itu teringat kepada anaknya yang masih duduk lesu di atas pasir. Dengan lembut orang tua itu berkata sambil menarik lengan putrinya, “Ken Dedes, marilah kita pun pulang. Ambillah cucianmu.”
Ken Dedes menatap wajah ayahnya. Wajah seorang yang paling dikasihi dari semua orang yang dikenalnya.
“Adakah kau sudah selesai dengan cucianmu?” bertanya ayahnya.
Ken Dedes menggeleng.
“Apakah kau ingin menyelesaikannya,” bertanya ayahnya pula.
Sekali lagi gadis itu menggeleng.
“Kalau demikian, marilah kita pulang. Biarlah kau selesaikan di rumah,” ajak Empu Purwa.
Perlahan-lahan Ken Dedes berdiri dan berjalan ke belumbang untuk mengambil cuciannya. Tak berani ia menatap wajah kawan-kawannya yang seakan-akan memandangnya dengan penuh persoalan. Sesaat kemudian mereka itu pun pulang bersama-sama. Empu Purwa berjalan membimbing putrinya. Di perjalanan itu pun mereka tak banyak bercakap-cakap. Mereka sedang asyik bermain-main dengan angan-angan. Di dalam kepala Mahisa Agni masih saja membayang wajah Kuda Sempana yang menyala-nyala liar. Karena itu, mau tidak mau Mahisa Agni harus berpikir, “Bagaimanakah kalau anak itu datang sebelum waktu yang ditentukan? Apalagi kalau anak itu datang tidak seorang diri, tetapi dengan beberapa kawannya dari Tumapel?”
Tetapi kemudian dihiburnya sendiri hatinya, “Empu Purwa pasti tidak akan membiarkan anaknya mengalami nasib sedemikian Kalau perlu, perlu sekali, maka orang tua itu pasti akan membela anaknya. Kalau terpaksa, pasti ia akan mempertahankan dengan kekerasan pula.” Demikianlah batin Mahisa Agni menjadi agak tenteram karenanya. Setelah mengantarkan Wiraprana, Agni pun segera pulang ke rumah gurunya.

Dan sehari itu sama sekali tak dijumpainya Ken Dedes, yang kemudian merendam diri di dalam biliknya. Empu Purwa pun tidak dijumpainya di halaman atau di pendapa. Seorang cantrik berkata kepadanya bahwa Empu Purwa sedang berada di sanggarnya. Terasa sehari-hari rumah itu menjadi sepi. Mahisa Agni berjalan hilir-mudik dengan gelisah. Sekali dipegangnya senggot timba untuk mengisi jambangan tetapi belum lagi pekerjaan itu selesai, Mahisa Agni telah berpindah pekerjaan. Dicobanya melupakan kegelisahan dengan menyiangi pertamanan di belakang. Namun pekerjaan ini pun tak menyenangkannya. Akhirnya Mahisa Agni pun menyekap diri di bilik belakang. Bilik yang dipergunakannya untuk mesu diri, melatih tubuh wadagnya sejak ia mulai berguru kepada Empu Purwa itu. Dengan serta-merta dilepasnya ikat pinggangnya, diikatkan di pinggangnya. Dengan sebuah loncatan tinggi Mahisa Agni mulai dengan latihannya. Dilakukannya berbagai gerakan, dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit yang pernah dipelajarinya. Dengan tangkasnya ia meloncat-loncat seperti kijang. Melingkar, berputar, dan melambung ke udara. Ketika ia telah menjadi jemu dengan segala gerakan itu, tiba-tiba di tangannya telah tergenggam sebilah pedang yang diraihnya dari dinding biliknya. Dengan lincahnya Mahisa Agni mempermainkan pedangnya. Demikianlah Mahisa Agni melepaskan kejemuan dengan berbagai-bagai senjata. Pedang, tombak, cemeti, dan jenis-jenis senjata lain. Sehingga akhirnya Mahisa Agni menjadi lelah. Demikian lelahnya setelah semalam ia harus bertempur melawan hantu Karautan, pagi itu, dengan Kuda Sempana dan masa latihannya berlebih-lebihan, maka akhirnya Mahisa Agni pun tertidur dengan nyenyaknya.

Betapa mimpi yang aneh-aneh telah mengganggunya. Dilihatnya di dalam mimpi itu, Ken Dedes meloncat ke dalam perahu yang megah di sebuah danau yang tenang. Tetapi tiba-tiba air danau itu pun bergolaklah. Sebuah angin yang kencang telah mengguncang perahu yang megah itu sehingga perahu itu bergoyang dengan kerasnya. Ken Dedes yang berada di dalam perahu itu terlempar dan segera ditelan oleh gelombang yang ganas. Dan yang terakhir Mahisa Agni melihat perahu itu tenggelam. Bagaimanapun ia mencoba untuk menolong Ken Dedes maupun perahunya namun sia-sia. Bahkan akhirnya dirinya pun terguncang keras-keras. Mahisa Agni terkejut. Perlahan-lahan ia membuka matanya.

Dilihatnya bilik itu menjadi gelap. Seorang tua dengan lampu di tangan berdiri di sampingnya. “Agni,” berkata orang itu, “Apakah kau sedang bermimpi?”
Perlahan-lahan Mahisa Agni bangkit. Dilihatnya keadaan di sekelilingnya. Ternyata ia masih berada di dalam biliknya. Sekali ia menggeliat, kemudian jawabnya, “Ya Guru, sebuah
mimpi yang jelek.”
“Aku sudah menduga. Di dalam tidur kau menggeram,” sahut gurunya.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Syukurlah bahwa semuanya itu hanya terjadi di dalam mimpi. Namun meskipun demikian mimpi itu sangat mengganggunya. Sehingga kemudian terluncur juga dari mulutnya, “Guru, mimpiku menggelisahkan sekali. Adakah setiap mimpi itu mempunyai arti?”
“Apakah mimpimu itu?” bertanya gurunya.
Mahisa Agni mencoba untuk menceritakan mimpinya. Sejak awal sampai betapa ia meronta-ronta melawan ombak yang menghempas-hempaskannya. Empu Purwa mengerutkan keningnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Namun kemudian ia tersenyum, katanya, “Waktu mimpimu itu adalah waktu yang tak membawa arti. Mimpi yang mengandung makna adalah mimpi pada saat-saat antara ayam jantan berkokok untuk kedua dan ketiga kalinya. Mimpimu adalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur, Agni.”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. Tetapi senyumnya itu pun sama sekali tidak meyakinkan. Mahisa Agni telah mengenal gurunya baik-baik, sehingga ia tahu benar tabiat orang tua itu. Meskipun orang tua itu mencoba menghapuskan kesannya atas mimpi Mahisa Agni, namun tertangkap juga oleh Mahisa Agni, kegelisahan yang membayang di wajah itu, meskipun hanya sesaat. Tetapi ia tidak berani bertanya lebih lanjut.

“Agni,” berkata Empu Purwa kemudian, “bersihkanlah dirimu. Kami sudah makan malam. Makanlah dahulu, kemudian datanglah kepadaku. Ada yang akan aku bicarakan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Gurunya memanggilnya. Pasti ada sesuatu yang penting. Mahisa Agni pun kemudian berdiri dan perlahan-lahan berjalan keluar. Panggilan gurunya itu agak mengganggunya, di samping mimpi yang menggelisahkan itu.
“Mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur,” gumamnya,
“Mudah-mudahan.” Namun meskipun demikian Mahisa Agni tak dapat melupakannya.
Setelah membersihkan diri, Mahisa Agni segera pergi ke dapur. Dilihatnya Ken Dedes duduk di atas bale-bale bambu. Ketika dilihatnya ia datang, segera gadis itu menyapanya, “Kau tertidur di bilik belakang Kakang?”
Mahisa Agni mengangguk. Ditatapnya wajah gadis itu. Pucat, dan tampak bendul di kedua pelupuk matanya. Agaknya gadis itu sehariharian menangis di dalam biliknya. Ken Dedes memalingkan wajahnya. Ia merasa Mahisa Agni memandang bendul di pelupuk matanya itu. “Apa yang kau tatap itu Kakang? Apakah kau belum pernah melihat mataku?” katanya sambil mencoba tersenyum.
“Bukan apa-apa,” jawab Agni. Dan tiba-tiba saja sikapnya menjadi canggung. Ia telah berkumpul dengan Ken Dedes dalam satu rumah bertahun-tahun lamanya. Namun kini terasa gadis itu menjadi asing baginya.


Jilid 2
KARENA MAHISA AGNI masih tegak di pintu, berkatalah Ken Dedes, “Apakah kau akan berdiri saja di situ?”
“Oh,” dan Mahisa Agni pun berjalan memasuki ruangan itu. Dilihatnya beberapa endang sedang sibuk membersihkan piringpiring tanah dan mangkuk.
“Kau terlambat makan Kakang. Ayah, para cantrik dan endang, dan aku sudah makan. Ayah mencarimu tadi. Ternyata kau ditemukannya di bilik belakang,” berkata Ken Dedes sambil mempersiapkan makan Agni.
“Aku lelah sekali,” jawab Agni.
Ken Dedes menundukkan wajahnya. Jawaban Agni itu bagi Ken Dedes terdengar seolah-olah berkata ‘Aku sangat lelah Ken Dedes, setelah aku berkelahi mempertahankan kau’.
Dan tiba-tiba terdengar Ken Dedes berdesis, “Terima kasih, Kakang.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Maka ia pun bertanya, “Kenapa terima kasih?”
Ken Dedes tersadar dari angan-angannya. Karena itu ia punmenjadi tersipu-sipu. Sahutnya, “Terima kasih, bahwa kau masih akan memberi aku pekerjaan dengan bekas-bekas makan itu.”
“Oh,” Mahisa Agni pun tersenyum, “maafkan aku.”

Dan Mahisa Agni pun makanlah. Anak muda itu duduk bersila di atas bale-bale bambu, sedang Ken Dedes duduk pula di sampingnya. Dilayaninya Mahisa Agni dengan cermatnya. Tidak bedanya ia melayani ayahnya. Ken Dedes yang bersikap sebagai seorang adik itu, tahu benar apa yang harus dilakukan untuk ayah dan saudara tuanya. Namun, kali ini terasa sikap itu agak berbeda. Ken Dedes tidak banyak berbicara seperti biasanya. Dan tiba-tiba terdengar gadis itu bergumam tanpa melepaskan pandangannya yang menghunjam ke gelap malam, “Kakang, Ayahmemanggil aku menghadap setelah Kakang selesai makan malam.”
Jantung Mahisa Agni pun berdesir. Gadis itu pun dipanggil pula oleh ayahnya.
“Kalau demikian,” pikir Mahisa Agni, “masalahnya pasti masalah gadis itu. Mungkin akibat sikap Kuda Sempana siang tadi. Agaknya gurunya pun melihat ketidak ikhlasan anak itu. Tetapi mungkin, meskipun terdorong oleh peristiwa pagi tadi, ada juga persoalanpersoalan lain.”
Mahisa Agni menarik nafas panjang.
“Kenapa kau berdesah?” bertanya Ken Dedes.
Mahisa Agni terkejut. Dicobanya tersenyum. Jawabnya, “Aku lupa bahwa aku sudah terlalu kenyang.”
“Bohong!” bantah Ken Dedes.
Sikap manjanya kadang-kadang masih tampak, meskipun ia mencoba bersikap sungguh-sungguh. Dan tiba-tiba saja Ken Dedes kini telah benar-benar menjadi gadis dewasa di dalam tangkapan Mahisa Agni.
Dan tiba-tiba gadis itu memberengut. Katanya, “Kau tidak mengacuhkan aku.”
“Kenapa?” bertanya Agni, “bukankah aku memperhatikan setiap kata-katamu.”
“Tidak,” sahut gadis itu, “aku berbicara dengan sungguhsungguh. Tetapi mendengar pun kau tidak.
“Aku mendengar,” jawab Agni.
“Apa yang aku katakan?” ia bertanya.
“Bapa Pendeta memanggil kau menghadap,” Agni mengulangi kata-kata Ken Dedes.
“Kau mendengarnya?” desis Ken Dedes, “kalau demikian kau benar-benar tidak menaruh perhatian.”
“Aku memperhatikan dengan sungguh-sungguh pula,” Agni mencoba membela diri.
“Kau tidak memberikan tanggapan apa-apa. Kau tidak terkejut dan kau tidak bertanya, kenapa aku dipanggil Ayah. Bahkan kau malahan berdesah karena kau makan terlalu kenyang. Mungkin kau baru merenungkan sesuatu sehingga perut kakang sendiri pun Kakang lupakan. Apakah Kakang Agni sedang merenungkan Witri atau Sita yang manis itu?” tuduh Ken Dedes.
“Ah,” bantah Mahisa Agni, “jangan mengada-ada Ken Dedes. Aku mendengar kata-katamu dan aku merenungkannya. Aku sedang berpikir apakah kira-kira sebabnya.”
“Bohong,” Ken Dedes mencibirkan bibirnya.
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tersenyum melibat putri gurunya yang manja namun bersungguhsungguh itu.
“Aku benar-benar terlalu kenyang,” Mahisa Agni bergumam, “justru karena aku merenungkan kata-katamu.”
“Bohong. Bohong,” sekali lagi gadis itu mencibirkan bibirnya.
“Sudahlah Ken Dedes. Nanti Bapa Pendeta terlalu lama menunggu. Disangkanya aku terlalu lama makan,” berkata Agni kemudian.
“Bukankah sebenarnya demikian. Kakang makan terlalu lama meskipun Kakang makan terlalu cepat,” jawab Ken Dedes.
Mahisa Agni diam saya. Dipandangnya Ken Dedes itu, yang kemudian berdiri membenahi piring-piring dan mangkuk-mangkuk. Diambilnya kendi dari glodog dan disodorkannya kepada Mahisa Agni.
“Terima kasih Ken Dedes,” sambut Mahisa Agni.
Ken Dedes yang hampir melangkah pergi berhenti memandangi Mahisa Agni, katanya, “Sejak kapan Kakang berterima kasih kepadaku?”
Agni menundukkan wajahnya. Ia tidak menjawab kata-kata itu. Sehingga Ken Dedes pun melangkah pergi. Dengan sudut matanya Mahisa Agni melihat gadis itu. Tidak terlalu tinggi, bulat dan langsing. Pekerjaannya sehari-hari telah membentuk tubuh gadis itu menjadi serasi. Kuat namun tidak terlalu kasar. Dan tiba-tiba Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya, “Hem, benar juga kata anak-anak muda. Putri Bapa Pendeta itu bagaikan Bunga di lereng Gunung Kawi. Dan bunga itu kini mulai kembang.”
Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kembali ia tunduk dalam-dalam ketika Ken Dedes datang kepadanya dan kembali duduk di sampingnya.
“Kakang,” gadis itu berkata pula. Kali ini bersungguh-sungguh,“Ayah memanggil aku.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya, katanya, “Kenapa kau dipanggil?”
Tetapi tiba-tiba gadis itu memberengut kembali. Katanya, “Kakang, kau menggodaku sejak tadi.”

“He,” Agni tidak mengerti, “kenapa?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar