Jumat, 19 September 2014

PELANGI DI LANGIT SINGASARI 5

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kuda Sempana itu dahulu adalah kawannya bermain pula seperti Wiraprana. Tetapi tiba-tiba ia menjadi muak melihat wajah yang sombong itu. Maka katanya, “Kuda Sempana. Jangan kau mencoba memperkecil arti
kami, anak-anak Panawijen. Kau juga anak dari tanah ini. Kau mampu menjabat pekerjaanmu sekarang. Demikian juga anak-anak yang lain. Kau telah menghina kampung halamanmu sendiri.”
“Diam!” bentak Kuda Sempana.“Kalau kau ingin mengalami nasib seperti Wiraprana, bilanglah.”
Selangkah demi selangkah Mahisa Agni berjalan maju, menuruni tebing. Kemarahan di dadanya telah menjalari kepalanya. Ditatapnya wajah Kuda Sempana seperti menatap wajah hantu. Tetapi yang berdiri di hadapannya sekarang bukan hantu Karautan yang menakutkan setiap orang. Yang ada di hadapannya tidak lebih dari Kuda Sempana. Tetapi Mahisa Agni tak pernah merendahkan orang lain. Demikianlah pada saat ia berhadapan dengan Kuda Sempana.
Kuda Sempana, yang telah mendapat tempaan keprajuritan beberapa tahun di Istana Tumapel, itu pun tidak sabar lagi. Dengan garangnya ia berlari menyongsong Mahisa Agni. Tak ada sepatah kata pun lagi yang meluncur dari mulutnya. Yang dilakukannya adalah langsung menyerang lawannya. Mahisa Agni telah bersiaga sepenuhnya. Karena itu, dengan
cepat ia mengelakkan diri. Sekali ia melingkar dan dengan sapuan yang cepat, ia berhasil menyentuh lambung lawannya dengan tumitnya. Sentuhan itu tidak terlalu keras dan Kuda Sempana pun tidak merasakan sesuatu karena sentuhan itu. Namun sentuhan itu telah benar-benar mengejutkannya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Mahisa Agni mampu
bergerak sedemikian cepatnya. Karena itu, sentuhan itu telah memperingatkannya bahwa Mahisa Agni mampu mengelak dan sekaligus menyerang dengan cepatnya sehingga ia tidak seharusnya melayani Mahisa Agni seperti melayani Wiraprana yang tegap tinggi itu.

Tetapi Kuda Sempana terlalu percaya kepada dirinya. Karena itu, kembali ia membusungkan dadanya. Dengan penuh keyakinan kepada diri sendiri, Kuda Sempana meloncat dan menyerang kembali dengan garangnya. Namun Mahisa Agni menyambut serangan itu dengan tangkas. Kuda Sempana menyerang Agni seperti badai yang melandalanda.
Cepat, keras, dan kuat. Tangan dan kakinya bergerak terayun-ayun membingungkan. Berputar, melingkar tetapi kadangkadang menempuh dadanya seperti angin ribut menghantam gunung.

Namun Mahisa Agni benar-benar seperti gunung yang tegak tak tergoyahkan. Serangan-serangan Kuda Sempana, betapapun cepat dan kerasnya, tak banyak dapat menyentuh kulit
Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian Kuda Sempana menjadi semakin marah. Sama sekali tak diduganya bahwa Mahisa Agni telah memiliki ilmu tata beladiri sedemikian baiknya. Anak itu dikenalnya beberapa tahun yang lalu sebagai anak yang patuh kepada gurunya, patuh melakukan ibadah, dan rajin bekerja di sawah ladang dan di rumah gurunya. Tetapi sama sekali tak diketahuinya bahwa di balik dinding-dinding batu yang memagari rumah Empu Purwa, Agni mendapat tempaan lahir dan batin. Ilmu yang akan
dapat menjadi penguat tubuh dan nyawanya. Tubuhnya yang harus melawan setiap tantangan lahiriah dan nyawanya yang harus dipersiapkan untuk menghadap Yang Maha Agung.

Demikianlah maka perkelahian antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Kuda Sempana telah kehilangan pengamatan diri.  Wiraprana, yang kemudian telah mendapat seluruh kesadarannya kembali, dengan susah-payah mencoba mengangkat wajahnya yang penuh lumuran darah. Dari sela-sela pelupuk matanya yang
bengkak, ia melihat perkelahian yang sengit antara Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Sekali-kali tampak mulutnya menyeringai menahan sakit namun kemudian tampak ia tersenyum. Tetapi senyum itu pun segera lenyap dari bibirnya. Bahkan ia menjadi cemas apabila Mahisa Agni akan mengalami nasib seperti dirinya. Pandangan matanya yang semula agak kabur, kini berangsur terang. Lambat laun ia dapat melihat perkelahian antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni dengan jelas. Desak-mendesak, hantammenghantam singa lena. Meskipun Wiraprana tidak memiliki ilmu sebaik Mahisa Agni maupun Kuda Sempana namun Wiraprana telah mampu menilai keduanya. Dengan bekal ilmunya yang sedikit, Wiraprana dapat mengetahui bahwa keadaan Mahisa Agni cukup baik. Diam-diam iaberbangga dan berharap di dalam hatinya. Ia mengharap Mahisa Agni dapat memenangkan perkelahian itu.

Kuda Sempana yang dibakar oleh kemarahan dan kesombongannya bertempur dengan seluruh tenaganya. Sekali-sekali ia melontarkan pandangannya kepada Ken Dedes. Ia masih melihat gadis itu berdiri kaku di tanggul bendungan. Sehabis pekerjaannya ini, ia akan menangkap gadis itu dan membawanya lari. Perkelahian yang terjadi di antara anak-anak muda itu akan menutup kemungkinan yang sebaik-baiknya baginya untuk menempuh cara yang wajar dan sopan. Ia takut kalau Empu Purwa akan keberatan. Tetapi Mahisa Agni tidak segera dapat dikalahkan. Bahkan anak itu semakin lama seakan-akan menjadi semakin kuat dan cekatan. Akhirnya Kuda Sempana benar-benar menjadi mata gelap. Hanya ada satu pilihan yang ada padanya. Membawa Ken Dedes bersamanya ke Tumapel saat itu juga.
Wiraprana telah dilumpuhkan dan kini Mahisa Agni melintang di hadapannya.

Tiba-tiba terdengar Kuda Sempana berteriak nyaring, “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!”

Bersamaan dengan itu terdengar pula Ken Dedes berteriak nyaring dibarengi geram Wiraprana parau. Katanya, “Agni, hatihatilah!”
Mahisa Agni meloncat surut. Ditatapnya Kuda Sempana dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia berdesis, “Adakah itu pilihanmu Kuda Sempana yang perkasa?”
“Wanita adalah sama berharganya dengan pusaka,” sahut Sempana, “taruhannya adalah nyawa. Kau atau aku yang binasa.”
Mahisa Agni menggeram. Ternyata Kuda Sempana tega pada pati uripnya untuk mendapatkan gadis idamannya. Dilihatnya di tangan anak muda itu sebilah keris.
Kini Mahisa Agni tak dapat berbuat lain kecuali berkelahi matimatian. Ia sama sekali tak bersenjata. Namun ia pun tak dapat disilaukan hatinya oleh Kuda Sempana yang kini bersenjata.
Terdengar ia bergumam perlahan sekali sehingga hanya dapat didengarnya sendiri, “Tidak. Belum waktunya aku mempergunakan pusaka pula. Aku akan mencoba menyelesaikan perkelahian ini dengan wajar.”
Namun yang terdengar adalah suara Kuda Sempana, “Agni, aku masih memberimu sekedar waktu. Tinggalkan tempat ini!”
Mahisa Agni menggeleng lemah, jawabnya, “Harus ada seseorang yang mencegah perbuatan gilamu itu.”
Kuda Sempana tidak menunggu mulut Agni mengatub. Seperti tatit ia menyambar dada lawannya dengan ujung kerisnya. Untunglah bahwa Agni tetap bersiaga sehingga ia berhasil
menyelamatkan dirinya. Berbareng dengan kemarahannya yang merayap ke ubun-ubunnya. Kuda Sempana telah benar-benar bertempur antara hidup dan mati. Mahisa Agni pun kemudian tidak mau diombang-ambingkan oleh ketidaktentuan dari ujung dan pangkal perkelahian itu. Meskipun anak muda, murid Empu Purwa itu, belum mempergunakan senjata apa pun namun ia telah melepaskan segenap ilmu lahiriahnya. Telah diperasnya tenaga serta keprigelannya untuk melawan keris Kuda Sempana. Dan keris Kuda Sempana memang berbahaya. Ujungnya seperti seekor lalat yang mendesing-desing di sekeliling tubuhnya.
Tetapi Agni cukup lincah sehingga lalat itu tidak sempat hinggap di
kulitnya. Meskipun demikian, seluruh tubuh Agni telah basah-kuyup
oleh keringatnya yang mengalir semakin lama semakin deras.
Namun Mahisa Agni adalah murid Empu Purwa yang tekun. Meskipun anak muda itu
bersenjata namun akhirnya terasa bahwa ujung kerisnya sama sekali tak dapat mengimbangi ujung jari-jari Mahisa Agni. Ujung jarijari Agni dengan lincahnya menyentuh-nyentuh Kuda Sempana hampir di setiap bagian tubuhnya yang dikehendaki. Dan jari-jari
Mahisa Agni benar-benar seperti batang-batang besi. Sehingga kedua tangan Agni itu mirip benar seperti dua batang tombak yang masing-masing bermata lima. Tetapi keris Kuda Sempana pun keris yang ampuh pula. Namun, meskipun keris itu berbisa setajam bisa
ular bandotan, serta meskipun Mahisa Agni tak berani terkena akibat meskipun sentuhan seujung rambut sekali pun dengan keris itu, tetapi lambat-laun namun pasti Mahisa Agni tampak selalu menguasai lawannya.
Dada Wiraprana pun tak kalah tegangnya. Masih terasa betapa berat tangan Kuda Sempana. Dan di tangan itu kini tergenggam keris. Namun ia percaya bahwa Mahisa Agni ternyata memiliki ketangkasan jauh melampaui ketangkasannya.
“Aku tidak mengira,” desisnya lemah, “Aku tidak pernah melihat anak itu membentuk dirinya menjadi seekor burung rajawali yang perkasa.”
Mahisa Agni kini benar-benar bertempur seperti seekor rajawali yang garang. Jari-jari Mahisa Agni benar-benar tidak kalah berbahayanya dari keris Kuda Sempana.
Mula-mula Kuda Sempana tidak mau melihat kenyataan itu.Namun lambat-laun hatinya digetarkan oleh kenyataan. Mahisa Agni melawannya dengan gigih. Karena itu hatinya menjadi semakin gelap dan anak muda itu bertempur membabi-buta. Akhirnya Mahisa Agni menjadi tidak sabar lagi. Perkelahian itu sudah berlangsung terlalu lama. Meskipun hampir segenap perhatian Mahisa Agni tertumpah pada perkelahian itu namun didengarnya pula suara riuh yang semakin lama semakin dekat. Terlintaslah di dalam benaknya bahwa suara
riuh itu pasti suara orang-orang Panawijen yang telah mendengarberita perkelahian itu.

Agaknya Kuda Sempana pun mendengar suara riuh itu. Tetapi ia yakin, meskipun dikerahkan segenap tenaga dan kemampuannya namun Agni tak akan dapat dikalahkan. Bahkan tiba-tiba tanpa diduganya, Agni menyerangnya bertubi-tubi seperti prahara. Agaknya usaha Mahisa Agni itu berhasil. Dengan sebuah serangan lambung yang mendatar, Mahisa Agni berhasil memutar tubuh Kuda Sempana yang berusaha untuk menghindar. Dengan tangannya ia menghantam tengkuk lawannya. Sekali lagi Kuda Sempana berusaha menghindari. Tangan kanannya tiba-tiba terjulur lurus dan ujung kerisnya mengarah ke dada Agni. Namun Agni cukup tangkas. Ketika keris itu lewat secengkang di hadapan dadanya, cepat-cepat ia memukul pergelangan tangan Kuda Sempana. Pukulan itu demikian kerasnya sehingga terdengarlah seakan-akan tulang pergelangan tangan itu retak.

Kuda Sempana terkejut bukan kepalang. Gerak yang sedemikian cepatnya itu sama sekali tak pernah diduganya. Apalagi dilakukan oleh Mahisa Agni, anak yang menghabiskan waktu remajanya di belakang dinding Desa Panawijen. Tetapi yang terjadi adalah, kerisnya terlepas dan terpelanting lebih dari tiga langkah daripadanya. Sedangkan perasaan sakit yang menyengat pergelangan tangannya, seakan-akan merambat sampai ke ubun-ubunnya.
Ia hanya dapat menunggu apa yang akan dilakukan Mahisa Agni atasnya. Kuda Sempana telah mengakui di dalam hatinya bahwa ia tak akan mampu membela diri seandainya Mahisa Agni akan membunuhnya.

Suara riuh di kejauhan semakin lama menjadi semakin dekat. Karena itu, Kuda Sempana menjadi semakin gelisah. Kalau penduduk Panawijen menganggap bahwa ia telah mencoba
melarikan Ken Dedes serta penduduk itu berhasil menangkapnya, akibatnya dapat mengerikan sekali. Kuda Sempana tahu benar bahwa penduduk Panawijen yang tenteram itu tidak terlalu berbahaya baginya. Tetapi tiba-tiba Kuda Sempana menyadari bahwa di hadapannya berdiri Mahisa Agni. Karena itu maka terdengar giginya gemeretak menahan hati.

“Kuda Sempana,” terkejut ketika terdengar Mahisa Agni berkata perlahan-lahan, “Kuda Sempana, ambil kerismu.”
Kuda Sempana memandang wajah Agni dengan mata yang memancarkan keragu-raguan hatinya. Benarkah Agni berkata demikian atau telinganya telah rusak karena pukulan-pukulan Agni yang keras. Tetapi sekali lagi ia mendengar Sempana berkata, “Ambillah kerismu.”
Seperti mimpi, Kuda Sempana berjalan beberapa langkah, kemudian membungkuk memungut pusaka. Tetapi ia tidak tahu, apa yang harus dilakukan kemudian. Mahisa Agni pun kemudian menjadi bingung, apa yang sebaiknya dilakukan. Kuda Sempana adalah pelayan dalam Akuwu Tumapel. Kalau terjadi sesuatu atasnya di desa kelahirannya, apakah Tunggul Ametung akan berdiam diri. Selagi Mahisa Agni menimbang-nimbang, suara riuh itu pun telah dekat benar di belakangnya. Kuda Sempana melihat mereka itu pula. Dengan gerak naluriah ia bersiap.

Yang mula-mula mencapai tepian, tempat perkelahian antara anak-anak muda itu terjadi, adalah seorang yang bertubuh tinggi kekar, berdada bidang. Ia adalah Buyut Panawijen.
Dengan penuh wibawa ia memandang berkeliling. Kepada Mahisa Agni yang masih tegak seperti tonggak, Kuda Sempana yang berdiri dengan kaki renggang dan berwajah tegang.
Kemudian kepada anaknya Wiraprana. Anak muda itu dengan susah payah mencoba berdiri. Ketika ditatapnya wajah ayahnya tiba-tiba ia tersenyum.
“Latihan yang jelek, Ayah,” katanya.
Tetapi Buyut Panawijen itu sama sekali tidak tersenyum. Bahkan tampak ia menyesal. Desisnya, “Kalian telah menjadikan pedukuhan yang damai ini menjadi gempar.”
Wiraprana tidak tersenyum lagi. Tertatih-tatih ia berjalan mendekati ayahnya.
“Apakah yang telah terjadi?” geram Buyut Panawijen itu.
Suasana kemudian dicengkam oleh kesepian. Wiraprana, Mahisa Agni, dan Kuda Sempana menundukkan wajah mereka. Apalagi ketika kemudian mereka mendengar suara nyaring dari tebing, “Agni, apakah yang kau lakukan?”

Agni mengangkat wajahnya. Hatinya berdebar-debar ketika ia melihat gurunya yang tua itu berlari tersuruk-suruk. Sesaat kemudian semua mata memandang ke arahnya, Empu Purwa, ayah gadis yang menimbulkan perkelahian tanpa dikehendakinya itu. Kuda Sempana pun melihat orang tua itu. Timbullah beribu-ribu pertanyaan di dalam dadanya. Orang tua itu sama sekali tidak tampak sebagai seorang sakti selain seorang yang tekun beribadah. Apakah Agni mempunyai guru yang lain dalam pengolahan badan wadagnya? Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa anak muda itu telah mengalahkannya.
“Agni,” berkata Empu Purwa terengah-engah setelah ia sampai ke tempat orang-orang Panawijen itu berkerumun, “Adakah kau telah membuat onar?”
Mahisa Agni tak berani memandang wajah gurunya. Ingin ia mengatakan apa yang sudah terjadi sebenarnya tetapi mulutnya seperti terkunci. Ia takut kalau dengan demikian ia akan menyinggung Ken Dedes dan menjadi semakin malu karenanya.
“Agni,” terdengar Empu Purwa berkata pula, “Apakah pula sebabnya engkau berkelahi? Apakah kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah laki-laki muda yang pandai bertengkar?”
Mahisa Agni menarik nafas. Namun mulutnya tetap membisu sehingga terdengar Wiraprana berkata, “Bukan salah Agni, Empu.”
Empu Purwa menoleh. Dilihatnya Wiraprana yang wajahnya menjadi merah biru. Katanya, “Adakah itu perbuatan Agni?”
“Bukan, Empu,” jawab Wiraprana cepat-cepat, “Agni tak akan berbuat demikian.”
Orang tua itu kemudian merenungi Mahisa Agni, seakan-akan anak itu belum pernah dilihatnya. Kemudian matanya beredar dan hinggap di wajah Kuda Sempana. Dengan terbata-bata Empu Purwa itu bertanya, “Angger Kuda Sempana, kenapa Angger nganggar
keris. Apakah Agni mengganggumu?”
Kuda Sempana pun tak dapat menjawab pertanyaan itu sehingga tanpa disadarinya kembali pandangan matanya terkulai di atas pasir tepian.
“Empu,” terdengar kemudian Buyut Panawijen berkata, “aku pun sedang berusaha mengerti, apakah yang sedang terjadi di sini.”
Empu Purwa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, ya Ki Buyut. Aku menjadi gemetar ketika aku mendengar anak-anak berteriakteriak di jalan, katanya Angger Kuda Sempana, Angger Wiraprana, dan Mahisa Agni saling berkelahi. Aku jadi sedemikian bingung sehingga aku tidak sempat bertanya-tanya lagi.”
“Aku pun mendengar dari anak-anak itu,” sahut Ki Buyut Panawijen. Kemudian kepada Wiraprana ia bertanya, “Benarkah itu Prana?”
“Tidak seluruhnya,” jawab anak muda itu, “Yang mula-mula berkelahi adalah aku dan Kuda Sempana.”
“Kau?” ulang ayahnya.
“Ya,” jawab Wiraprana, “tidakkah anak-anak itu berkata demikian?”
“Aku tak sempat mendengarnya,” sahut ayahnya.
“Dan akhir dari perkelahian itu,” Wiraprana meneruskan, “Aku kalah. Tidakkah Ayah lihat mukaku yang bengap?”
“Aku tidak bertanya akhir dari perkelahian itu,” potong ayahnya, “tetapi kenapa perkelahian itu mulai?”
Wiraprana pun menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang masih tunduk dalam-dalam. Dan tiba-tiba dilihatnya Ken Dedes masih berdiri menggigil di tebing sungai. eberapa orang sebenarnya telah mendengar apa yang sebenarnya terjadi dari anak-anak mereka namun ketika di tempat itu hadir pula Empu Purwa maka mereka pun menjadi ragu-ragu pula untuk mengatakannya.
Tetapi sesaat kemudian Ki Buyut itu pun mendesak pula, “Wiraprana, tidakkah kau bisa berkata?”
Wiraprana menarik nafas dalam-dalam dan ketika ia sudah tidak dapat mengelak lagi, maka katanya, “Ayah, bertanyalah kepada mereka yang menceritakan perkelahian itu. Itulah mereka, anakanak yang tadi sedang mencuci pakaian di belumbang ini. Mereka kini sedang mengintip apa pula yang akan terjadi di sini.”

Mendengar jawaban itu maka semua mata tiba-tiba bergerak keatas tanggul. Sehingga tampak pulalah oleh mereka itu, kepalakepala gadis yang sedang mengintip dengan keingintahuan, bagaimanakah akhir dari peristiwa itu. Ken Dedes yang melihat semua mata memandang ke arah tanggul di atasnya, merasa seolah-olah mata itu memandangnya dengan penuh hinaan dan penyesalan. Ia merasa bahwa dirinya sebab dari keributan itu. Karena itu maka tiba-tiba perasaan yang bergolak di dadanya itu tak dapat dibendungnya lagi sehingga tiba-tiba gadis itu berlari menghambur sambil berteriak, “Ayah, akulah yang bersalah.”

Empu Purwa terkejut mendengar teriakan itu. Demikian Ken Dedes sampai kepada ayahnya itu maka dengan serta-merta ia menjatuhkan dirinya sambil menangis sejadi-jadinya. Katanya di sela-sela tangis itu, “Ayah. Akulah sumber dari malapetaka yang menimpa padukuhan kita yang damai. Karena itu Ayah, betapa hinanya aku maka adalah lebih baik bagiku kalau Ayah sudi membunuhku. Biarlah aku mati di hadapan penduduk Panawijen yang tenteram ini untuk menebus kesalahan dan arang yang mencoreng di wajah keluarga.”
“Ken Dedes,” sahut ayahnya, “kenapakah kau ini?”
“Bunuh saja aku, Ayah,” tangis gadis itu.
Empu Purwa kemudian tegak seperti patung. Ditatapnya rambut anaknya yang panjang berombak, terurai menutup punggungnya.
“Bangunlah anakku,” bisiknya, “katakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku adalah ayahmu.”
“Tidak!” teriak Ken Dedes, “Bunuh aku, Ayah.”
Ki Buyut Panawijen pun kemudian mendekatinya pula. Dengan lembut ia berkata, “Ken Dedes, jangan menyalahkan diri sendiri. Berkatalah apa yang terjadi.”
Mula-mula gadis itu tidak juga mau berkata. Tetapi lambat laun, setelah beberapa orang membujuknya, Ken Dedes pun mengangkat wajahnya, memandang ayahnya dengan sayu. Katanya, “Apakah ada gunanya?”
“Berkatalah, supaya kami mendengar,” sahut Ki Buyut Panawijen.
Sebenarnya Ki Buyut itu pun telah dapat menduga, apa sebabnya maka tiba-tiba saja pedukuhannya yang tenteram itu diributkan oleh sebuah perkelahian yang mengerikan. Dan tiba-tiba pula ia pun menjadi malu. Satu di antara mereka yang berkelahi adalah anaknya.
“Hem,” pikirnya. “Adakah anakku berkelahi karena seorang gadis?”
Ken Dedes pun kemudian bercerita terbata-bata. Kuda Sempana pun mendengar kisah itu pula. Setiap kata yang diucapkan oleh gadis itu, serasa sebuah pukulan yang menampar adanya. Kuda Sempana tahu pasti bahwa orang-orang itu pasti akan menyalahkannya.

“Hem,” geram Ki Buyut Panawijen setelah Ken Dedes selesai berbicara. Dipandanginya wajah Kuda Sempana yang kaku tegang. Kemudian terdengar Buyut Panawijen itu berkata, “Angger Kuda Sempana. Benarkah cerita putri Empu Purwa itu?”

Kuda Sempana mengerling ke setiap wajah laki-laki Panawijen yang berdiri melingkar di sekitarnya. Kuda Sempana tak dapat mengelak lagi. Di hadapannya berdiri beberapa orang saksi. Sehingga karena itu terpaksa ia mengangguk sambil berkata, “Ya, Ki Buyut. Tetapi aku terdesak oleh keadaan. Aku telah mencoba datang ke rumah Ken Dedes. Tetapi gadis itu tak ada di rumah,”
“Adakah demikian adat di pedukuhan kita?” desak Ki Buyut, “Kenapa Angger Kuda Sempana tidak mencari ayahnya. Bahkan seharusnya dengan sebuah upacara?”
“Aku ingin mendapat kepastian sedangkan waktuku terlalu pendek. Besok aku harus terus kembali ke Tumapel,” jawab anak muda itu.
“Di pinggir sungai?” bertanya Ki Buyut.
Kuda Sempana tak dapat menjawab. Hampir saja ia menyebut ada yang akan ditempuhnya. Melarikan Ken Dedes dan menyembunyikannya sampai terdapat keturunan daripadanya. Tetapi niat itu urung. Akibat dari adat itu pun tak akan mau ditanggungkan. Sebab bila niat itu gagal dan keluarga gadis yang dilarikan itu menuntutnya, ia akan dapat perlakuan yang mengerikan. Mati dirampok orang seperti seekor harimau yang masuk ke dalam padukuhan. Karena Kuda Sempana tidak menjawab maka sejenak suasana menjadi sepi.

Di dalam kepala Ki Buyut Panawijen itu pun melingkar-lingkar pula berbagai pertanyaan. Tanpa terucapkan namun ia tahu apa yang akan ditempuh oleh Kuda Sempana. Dikenalnya anak itu sebagai anak yang cenderung menuruti kemauan sendiri. Karena itu tiba-tiba ia berdesis, “Sayang. Sebenarnya kami, penduduk dari pedukuhan ini, merasa bangga bahwa seorang anaknya telah berhasil merebut hati sang Akuwu Tumapel sehingga mendapat tempat yang baik di sisinya. Kepercayaan itu sebenarnya kami rasakan sebagai suatu kepercayaan pula buat kami, penduduk Panawijen yang sepi. Angger Kuda Sempana akan dapat menjadi tempat kami untuk berteduh jika hujan turun dan bernaung jika terik matahari membakar tubuh. Tetapi sayang. Sayang….”
Penyesalan yang dalam membayang di wajah Buyut Panawijen itu. Tak seorang pun menyambung kata-kata itu. Mereka tinggal menunggu apa yang akan dilakukan oleh pimpinan pedukuhan itu. Namun timbullah di dalam setiap kepala, keragu-raguan untuk berbuat sesuatu. Kuda Sempana adalah pengawal dalam Akuwu Tumapel. Sedang setiap orang tahu sifat dan tabiat yang aneh dari Tunggul Ametung itu. Akuwu itu benar-benar orang yang keras hati, sekeras batu akik namun pada suatu saat hati itu dapat selunak kapas. Karena itu tak seorang pun dapat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Tunggul Ametung jika salah seorang pengawalnya mengalami perlakuan yang jelek di kampung halamannya. Meskipun demikian, adat harus ditegakkan. Meskipun Kuda Sempana itu senapati sekali pun, seharusnya ia mendapat perlakuan yang sama apabila telah dilakukan sesuatu kesalahan.

Dan semuanya itu tergantung kepada Empu Purwa, ayah dari gadis yang akan dilarikan itu. Apabila orang tua itu menganggap bahwa Kuda Sempana telah melarikan anak gadisnya dan maksud itu dapat dicegah maka ia dapat menuntut hukuman atas anak muda itu. Kuda Sempana pun sadar akan hal itu. Namun telah bulat tekad di dalam hatinya, bahwa wanita, pusaka, dan nyawanya tak berbeda nilainya. Menghadapi Mahisa Agni sekali pun meskipun akan berakibat maut baginya.

Empu Purwa menyadari keadaannya. Ditatapnya setiap wajah dari tetangga-tetangganya itu. Dilihatnya keragu-raguan dan kecemasan di wajah-wajah itu. Sekali dipandangnya wajah anaknya pula. Pucat dan gemetar. Hatinya masih saja dicengkam oleh perasaan malu dan hina. Ketika kemudian Empu Purwa memandang wajah Mahisa Agni, dilihatnya wajah itu merah membara. Dengan tajam anak muda itu tak melepaskan pandangannya atas Kuda Sempana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar